Frankenstein45.Com – 26 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Investasi dan Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, menargetkan penerapan bahan bakar campuran etanol E20 pada tahun 2028. Langkah ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak bumi dan menekan defisit devisa.
E20 berarti bensin dengan kandungan etanol sebesar 20 persen dan sisanya 80 persen bensin konvensional. Penggunaan etanol dipandang dapat menurunkan emisi karbon serta membuka pasar bagi petani tebu lokal.
Berikut langkah‑langkah utama yang direncanakan pemerintah:
- Meningkatkan produksi etanol domestik melalui pemberian insentif bagi pabrik pengolahan tebu.
- Menyusun regulasi standar kualitas bahan bakar E20 dan mekanisme distribusinya.
- Melakukan sosialisasi kepada konsumen dan pelaku industri otomotif tentang kompatibilitas kendaraan dengan etanol.
- Menetapkan target tahunan impor BBM yang menurun secara bertahap hingga mencapai nol pada akhir 2028.
Target E20 diharapkan dapat menghemat miliaran dolar dalam pembayaran impor BBM setiap tahunnya. Selain itu, kebijakan ini diharapkan meningkatkan pendapatan petani tebu, menciptakan lapangan kerja baru di sektor biofuel, dan mendukung komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Namun, implementasinya tidak lepas dari tantangan, antara lain kebutuhan investasi awal yang tinggi, kesiapan infrastruktur distribusi, serta adaptasi teknis pada mesin kendaraan. Pemerintah berjanji akan mengatasi hambatan tersebut melalui skema pembiayaan khusus dan kerjasama dengan produsen otomotif.
Jika target tercapai, Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan kebijakan biofuel paling ambisius di Asia Tenggara, sekaligus memperkuat kedaulatan energi nasional.




