Tepatkah Langkah Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-sapu? Pendapat Pakar IPB
Tepatkah Langkah Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-sapu? Pendapat Pakar IPB

Tepatkah Langkah Pemprov Jakarta Basmi Ikan Sapu-sapu? Pendapat Pakar IPB

Frankenstein45.Com – 21 April 2026 | Pemprov DKI Jakarta baru-baru ini meluncurkan operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu (Pangasius spp.) di beberapa sungai dan kanal kota. Langkah ini diambil setelah muncul laporan bahwa populasi ikan tersebut meningkat tajam dan dianggap mengganggu ekosistem perairan serta menimbulkan masalah kebersihan.

Charles PH Simanjuntak, pakar ikan dan konservasi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, memberikan penilaian atas kebijakan tersebut. Menurutnya, operasi eradikasi memang memiliki urgensi, namun harus diiringi dengan strategi jangka panjang yang lebih komprehensif.

Pandangan Pakar:

  • Penangkapan massal dapat mengurangi tekanan populasi secara sementara, tetapi tidak menyelesaikan akar penyebab proliferasi ikan sapu-sapu, seperti pencemaran air dan kurangnya predator alami.
  • Penggunaan jaring atau perangkap secara intensif dapat menimbulkan dampak sampingan, termasuk tertangkapnya spesies non-target yang juga penting bagi ekosistem.
  • Perlu pengawasan berkelanjutan dan evaluasi hasil operasi secara ilmiah untuk menilai efektivitas dan dampaknya.

Simanjuntak menyarankan beberapa langkah pendukung yang sebaiknya dijalankan bersamaan dengan operasi penangkapan:

  1. Meningkatkan kualitas air melalui program pengendalian limbah domestik dan industri.
  2. Restorasi habitat alami dengan penanaman vegetasi riparian yang dapat menjadi tempat berkembang biak bagi predator alami ikan.
  3. Penerapan program edukasi publik mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
  4. Monitoring rutin populasi ikan sapu-sapu menggunakan metode survei ilmiah.

Dengan mengintegrasikan tindakan jangka pendek dan jangka panjang, diharapkan upaya pengendalian ikan sapu-sapu dapat lebih berkelanjutan dan tidak menimbulkan konsekuensi ekologis yang tidak diinginkan.