Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | Sejak dirilis pada 1 Mei 2026, The Devil Wears Prada 2 telah menjadi sorotan utama bioskop dunia, menembus angka-angka yang menggetarkan industri film. Sekuel yang dipimpin oleh Meryl Streep, Anne Hathaway, dan Emily Blunt ini tidak hanya menyaingi film aksi berbudget besar, melainkan juga menantang dominasi film olahraga F1 yang dibintangi Brad Pitt.
Box Office Menggemparkan
Data terbaru dari Box Office Mojo menunjukkan bahwa film ini berada kurang dari US$4 juta untuk melampaui total pendapatan domestik F1 yang sebesar US$189,6 juta. Pada akhir pekan keempat penayangan, The Devil Wears Prada 2 mencatat US$3,2 juta di pasar Amerika Utara, meskipun jumlah bioskop turun 530 unit, menandakan penurunan hanya 39,6% dibandingkan pekan sebelumnya.
Angka-angka penting lainnya:
- Total pendapatan domestik: US$186,7 juta (mendekati target US$200 juta).
- Pendapatan global: US$557,0 juta, menempatkannya di urutan teratas film komedi‑drama tahun 2026.
- Rekor global: film ini telah melampaui US$600 juta, menjadikannya salah satu hit terbesar tahun ini.
Jika tren ini berlanjut, The Devil Wears Prada 2 diproyeksikan akan menutup tahun dengan pendapatan global yang melampaui US$634,1 juta milik F1, sekaligus mengukuhkan posisi film fashion sebagai kekuatan komersial yang tak lagi dapat diabaikan.
Warisan Film dan Dampak Budaya
Lebih dari dua dekade sejak perilisan film pertama, warisan The Devil Wears Prada tetap kuat. Karakter Miranda Priestly telah menjadi ikon anti‑hero dalam budaya pop, dan dialog‑dialog film terus menjadi meme di media sosial. Kesuksesan sekuel ini menegaskan bahwa nostalgia yang digerakkan oleh penonton perempuan dapat bersaing dengan blockbuster beranggaran tinggi.
Para kritikus menyoroti bagaimana film ini menggabungkan humor cerdas dengan drama industri mode, menghasilkan pengalaman menonton yang “pithy” sekaligus “rewatchable”. Keberhasilan komersial sekaligus kritis ini memperlihatkan bahwa film dengan tema fashion masih memiliki daya tarik luas, terutama bila dipadukan dengan cerita karakter yang kuat dan penampilan akting kelas dunia.
Apakah Fashion Masih Penting?
Meskipun film ini mencatat pendapatan fantastis, ada suara yang mempertanyakan relevansi fashion dalam konteks modern. Dalam narasi sekunder, film menampilkan upaya menyelamatkan majalah Runway dari akuisisi oleh miliarder athleisure, menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah dunia mode hanya sekadar citra atau memiliki nilai substansial?
Analisis ini mencerminkan realitas industri saat ini, di mana majalah-mode menghadapi tekanan iklan, pengambilalihan korporasi, dan dominasi media sosial. Film menyoroti konflik antara visi kreatif dan kebutuhan komersial, menegaskan bahwa fashion tetap menjadi arena pertarungan antara seni dan bisnis.
Namun, melalui dialog antara Miranda dan Andy, film tetap menyiratkan bahwa fashion memiliki peran penting dalam membentuk identitas pribadi dan budaya visual masyarakat. Seperti adegan “cerulean” yang legendaris, warna dan gaya tetap menjadi bahasa universal yang memengaruhi cara orang berinteraksi dengan dunia.
Dengan demikian, The Devil Wears Prada 2 tidak hanya menjadi hit box office, tetapi juga memicu diskusi tentang nilai intrinsik fashion dalam era digital yang dipenuhi influencer dan platform visual.
Kesimpulannya, keberhasilan finansial film ini menandai kebangkitan kembali bioskop pada 2026, sekaligus menegaskan bahwa warisan film klasik yang dihidupkan kembali dapat bersaing dengan produksi blockbuster. Di samping itu, film ini memperkaya perdebatan tentang peran fashion dalam kehidupan modern, menunjukkan bahwa dunia mode masih memiliki tempat yang signifikan di layar lebar dan hati penonton.







