Tiga Kapal China Sukses Lewati Selat Hormuz, Iran Beri Kelonggaran pada Negara Sahabat
Tiga Kapal China Sukses Lewati Selat Hormuz, Iran Beri Kelonggaran pada Negara Sahabat

Tiga Kapal China Sukses Lewati Selat Hormuz, Iran Beri Kelonggaran pada Negara Sahabat

Frankenstein45.Com – 05 April 2026 | Rangkaian tiga kapal berbendera China berhasil menembus Selat Hormuz pada akhir pekan ini, menandai fase baru dalam pelonggaran kebijakan blokade yang diterapkan Iran sejak akhir Februari 2026. Keberhasilan ini terjadi bersamaan dengan keputusan Tehran yang secara selektif mengizinkan sejumlah negara sahabat, termasuk Irak, Rusia, India, Pakistan, serta China, melintasi jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Kebijakan Iran: Dari Blokade Total ke Pengecualian Terbatas

Setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, Iran menutup akses Selat Hormuz, menyebabkan lonjakan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 109 dolar per barel dan menghambat ekspor minyak dari negara‑negara di sekitarnya. Namun, tekanan internasional, terutama ultimatum Presiden Amerika Donald Trump yang mengancam “neraka” dalam 48 jam jika jalur tidak dibuka, memaksa Tehran menyesuaikan kebijakan.

Markas Besar Pusat Khatam al‑Anbiya menegaskan penolakan terhadap ancaman tersebut sebagai tindakan tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh. Sebagai balasan, Iran mulai memberikan izin terbatas kepada negara‑negara yang dianggap sahabat. Pada minggu pertama April 2026, data Lloyd’s List Intelligence mencatat 53 kapal melewati Selat Hormuz, naik signifikan dari 36 kapal minggu sebelumnya.

Negara‑Negara yang Diizinkan dan Situasi Kapal Indonesia

Daftar negara yang memperoleh izin meliputi China, Rusia, India, Pakistan, Irak, Thailand, dan Sri Lanka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa keputusan ini didasarkan pada keselarasan politik dan keamanan regional. Kapal tanker China, yang sebagian besar membawa minyak mentah dan LPG, menjadi bagian utama dari arus lalu lintas terbaru.

Sementara itu, kapal Indonesia masih tertahan di selat tersebut. Analisis media Inggris menyebutkan bahwa izin belum diberikan karena belum ada koordinasi diplomatik yang memadai antara Jakarta dan Tehran, serta kekhawatiran terkait sanksi internasional yang masih melingkupi beberapa perusahaan pelayaran Indonesia.

Dampak Ekonomi Global dan Regional

Pembukaan terbatas ini membantu menstabilkan pasar energi. Harga minyak mentah menunjukkan penurunan perlahan, dan negara‑negara pengimpor mulai merasakan peredaran pasokan yang lebih lancar. Bagi Irak, izin ini merupakan angin segar setelah produksi minyaknya turun drastis menjadi 1,2 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas normal 4,3 juta barel.

Di sisi lain, China memanfaatkan kesempatan ini untuk memastikan pasokan energi bagi industri manufakturnya yang terus berkembang. Tiga kapal China yang berhasil melintas membawa sekitar 200.000 barel minyak mentah, memperkuat posisi Beijing sebagai salah satu konsumen utama minyak Timur Tengah.

Analisis Strategis

Pembatasan selektif Iran dapat dilihat sebagai taktik geopolitik untuk memperkuat aliansi regional sekaligus mengurangi tekanan ekonomi domestik. Dengan memberikan izin kepada negara sahabat, Tehran berharap memperoleh dukungan politik dan ekonomi yang dapat menyeimbangkan tekanan dari Barat.

Namun, kebijakan ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai konsistensi dan transparansi. Ketidaksesuaian antara izin yang diberikan kepada negara‑negara tertentu dan penahanan kapal Indonesia menimbulkan spekulasi tentang faktor‑faktor politik yang lebih dalam.

Ke depan, kemungkinan Iran akan memperluas daftar negara yang diizinkan bergantung pada dinamika negosiasi dengan Amerika Serikat dan sekutunya, serta perkembangan situasi militer di wilayah tersebut.

Secara keseluruhan, tiga kapal China yang berhasil menembus Selat Hormuz menandai titik balik penting dalam upaya de‑eskalasi ekonomi pasca‑konflik, sekaligus menegaskan kembali peran strategis selat tersebut dalam jaringan energi global.