Frankenstein45.Com – 28 Juni 2026 | Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dipandang sebagai momentum penting untuk menyelesaikan perselisihan internal yang telah lama mengguncang Persatuan Bulan (PBNU). Sejumlah tokoh muda yang aktif di jaringan sosial dan organisasi keagamaan menaruh harapan besar bahwa pertemuan tertinggi ini akan melahirkan seorang pemimpin yang mampu menyatukan faksi-faksi yang berseteru.
Konflik internal PBNU bermula dari perbedaan pandangan mengenai arah kebijakan, kepemilikan lembaga pendidikan, serta alokasi dana wakaf. Perselisihan tersebut tidak hanya menurunkan citra organisasi, tetapi juga menghambat program-program sosial yang dijalankan di tingkat nasional.
Beberapa tokoh muda, antara lain Ahmad Fauzi (ketua Lembaga Kajian Islam Muda), Siti Nurhaliza (aktivis perempuan NU), dan Rizki Pratama (pendiri komunitas digital NU), secara terbuka mengajak anggota Muktamar untuk mempertimbangkan kriteria berikut dalam memilih pemimpin pemersatu:
- Berpengalaman dalam mengelola organisasi besar dengan rekam jejak bersih.
- Mampu menjembatani perbedaan pandangan melalui dialog terbuka.
- Memiliki visi inklusif yang menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan kelompok.
- Terbuka terhadap inovasi teknologi dalam memperkuat dakwah dan pelayanan sosial.
- Menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang moderat dan toleran.
Para pengamat menilai bahwa generasi muda memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan media sosial dan platform digital untuk memperluas jangkauan dakwah serta meminimalisir polarisasi. Mereka berharap Muktamar ke-35 dapat memanfaatkan energi tersebut untuk menominasikan calon yang tidak hanya dikenal secara tradisional, tetapi juga memiliki rekam jejak positif di dunia maya.
Dalam rapat persiapan, Dewan Syuro NU menyampaikan bahwa proses pemilihan akan melibatkan musyawarah mufakat yang menekankan partisipasi luas dari semua daerah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penetapan satu pihak saja yang dapat memicu kembali ketegangan.
Jika berhasil, pemimpin baru diharapkan dapat:
- Mengakhiri konflik internal yang telah memecah belah PBNU selama beberapa tahun terakhir.
- Menguatkan posisi NU sebagai lembaga keagamaan yang mempromosikan toleransi dan perdamaian.
- Mempercepat pelaksanaan program pendidikan dan kesejahteraan umat.
- Menjadi jembatan antara NU dan generasi milenial serta Gen Z.
- Mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dalam dakwah.
Dengan dukungan tokoh muda serta komitmen seluruh elemen PBNU, harapan besar menanti Muktamar ke-35 untuk menghasilkan sosok pemimpin yang mampu menyatukan kembali gerakan Nahdlatul Ulama dan menuntun organisasi menuju masa depan yang lebih harmonis.




