Frankenstein45.Com – 10 Mei 2026 | Pekan ini, wilayah Mile Point 69 (MP‑69) di Tembagapura, Papua Tengah, kembali menjadi sorotan nasional setelah serangkaian tembakan yang menewaskan 12 warga sipil. Insiden ini terjadi dalam rangka operasi penindakan yang dipimpin TNI terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang dipimpin oleh Guspi Waker. Kejadian paling mematikan melibatkan seorang remaja perempuan berusia sekitar 12‑15 tahun yang ditembak di bahu kiri dan meninggal dalam perjalanan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Rangkaian Serangan dan Dampak Langsung
Pada Sabtu, 9 Mei 2026, tim Satgas TNI di MP‑69 mendeteksi pergerakan mencurigakan di sekitar Camp David, sebuah pos di seberang sungai. Dari hasil pemantauan, terdengar dua kali letusan senjata api yang diduga berasal dari OPM. Tak lama kemudian, kelompok bersenjata tersebut melancarkan rentetan tembakan ke posisi personel TNI di sekitar Camp Wini Kalikuluk. Tembakan mengakibatkan warga sipil yang sedang berkumpul di dalam kamp terpapar, termasuk enam korban langsung yang terdampak, di antaranya satu korban meninggal dunia.
Korban tewas adalah seorang gadis remaja yang diletakkan di bahu kiri oleh peluru. Prajurit TNI segera menandu korban ke pusat pelayanan kesehatan terdekat, namun kondisi memburuk dan ia dinyatakan meninggal di jalan Poros MP‑69. Lima korban lainnya mengalami luka tembak, salah satunya pada betis kiri, dan kini masih menjalani perawatan intensif di fasilitas medis.
Evakuasi Massal dan Pengungsian
Setelah tembakan, personel TNI segera mengevakuasi perempuan, anak‑anak, dan lansia ke lokasi aman. Secara keseluruhan, sekitar 256 warga mengungsi ke pos-pos penampungan sementara, menghindari potensi serangan lanjutan. Pengungsian massal menambah beban kemanusiaan di wilayah yang sudah terbatas infrastruktur medis dan logistiknya.
Operasi Penindakan TNI dan Penangkapan OPM
Pimpinan Koops Habema, Letnan Kolonel Infanteri M. Wirya Arthadiguna, menegaskan bahwa operasi ini merupakan respons atas aksi brutal OPM yang menargetkan warga sipil. Dalam rentang Januari‑Mei 2026, TNI mengklaim telah menembak mati 16 anggota OPM yang terlibat dalam serangkaian serangan terhadap penduduk dan aparat keamanan. Menurut pernyataan resmi, setiap tindakan TNI selalu berpedoman pada Rules of Engagement (ROE) yang menekankan proporsionalitas, perlindungan HAM, dan keselamatan warga.
Wirya menambahkan bahwa setelah penembakan, tim Satgas melanjutkan patroli intensif, memperkuat pemantauan terhadap pergerakan OPM di wilayah Kalikuluk dan sekitarnya. Penangkapan senjata, amunisi, serta peralatan komunikasi berhasil diamankan, mengurangi potensi ancaman lebih lanjut.
Reaksi Masyarakat dan Pemerintah
Kematian remaja perempuan memicu duka mendalam di kalangan masyarakat setempat. Warga menuntut keadilan dan perlindungan yang lebih kuat, sekaligus mengkritik terus‑menerus aksi kekerasan yang menodai harapan akan perdamaian di Papua. Pemerintah provinsi Papua berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan TNI, lembaga bantuan kemanusiaan, serta organisasi non‑pemerintah untuk menyediakan bantuan psikososial dan logistik bagi korban.
Di tingkat nasional, Menteri Pertahanan menegaskan bahwa keamanan wilayah Papua adalah prioritas utama, sambil menekankan pentingnya dialog yang konstruktif dengan tokoh‑tokoh masyarakat Papua guna mengurangi eskalasi konflik.
Dengan total 12 warga sipil yang dilaporkan meninggal dalam rangkaian operasi penindakan ini, tragedi tersebut menambah panjang daftar korban sipil di Papua. Meskipun TNI berhasil menumpas sejumlah anggota OPM, tantangan keamanan dan perlindungan warga sipil tetap menjadi agenda utama yang harus diselesaikan bersama.
Penutup, upaya rekonsiliasi dan penegakan hukum yang tegas menjadi kunci untuk menghentikan siklus kekerasan. Semua pihak diharapkan dapat berkomitmen pada solusi damai yang menghormati hak asasi manusia, sekaligus memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang di masa depan.




