Frankenstein45.Com – 30 Maret 2026 | Bandung, 30 Maret 2026 – Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) kembali menjadi sorotan publik setelah dua anak harimau Bengal, Huru dan Hara, meninggal secara berturut‑turut pada akhir Maret. Kedua satwa yang berusia delapan bulan tersebut meninggal karena infeksi virus panleukopenia, sebuah penyakit menular yang biasanya menyerang kucing domestik tetapi kini terbukti dapat menyerang harimau muda.
Penanganan Awal dan Penyebab Kematian
Gejala penyakit pertama kali muncul ketika Hura dan Hara berusia lima bulan. Kedua anak harimau langsung dipindahkan ke kandang karantina dan mendapatkan perawatan intensif. Setelah pemeriksaan feses dilakukan, tim medis yang dipimpin oleh Agnisa Nur Puspita, Medik Veteriner Ahli Pertama BBKSDA Jawa Barat, mengonfirmasi bahwa kedua harimau positif terinfeksi virus panleukopenia.
Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, menyebabkan muntah, diare, penurunan sel darah putih, dan pada akhirnya kematian pada satwa muda. Nur Purba Priambada, Presiden Asosiasi Dokter Hewan Satwa Liar, Akuatik, dan Hewan Eksotik Indonesia (Asliqewan), menegaskan bahwa tingkat kematian akibat panleukopenia sangat tinggi, terutama bila penularan terjadi pada populasi yang belum memiliki kekebalan.
Dedi Mulyadi Turun Tangan
Menanggapi tragedi ini, Dedi Mulyadi, Ketua DPRD Jawa Barat, turun langsung ke lokasi kebun binatang untuk melakukan koordinasi dengan pihak BBKSDA, Dinas Kehutanan, dan manajemen Bandung Zoo. Dalam pertemuan tersebut, Dedi menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur karantina, kebersihan kandang, serta protokol kesehatan satwa.
“Kita harus memastikan tidak ada lagi satwa yang menjadi korban karena kelalaian manajemen atau konflik internal,” ujar Dedi Mulyadi. Ia juga menuntut transparansi penuh dalam proses penanganan kasus ini dan meminta laporan tertulis dalam waktu tiga hari kerja.
Reaksi Pemerintah Kota dan Masyarakat
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku terpukul atas kematian Huru dan Hara. Ia menyatakan bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk memperbaiki sistem pengelolaan kebun binatang agar kesejahteraan satwa terjamin.
Usup Supriyatna, perawat satwa yang merawat kedua harimau, menuturkan bahwa proses perkawinan induk, Jelita dan Sahrulkan, berlangsung lama dan penuh tantangan. Ia mengingat kembali proses melahirkan yang ia saksikan, menambah nuansa emosional pada tragedi ini.
Langkah-Langkah Perbaikan yang Ditetapkan
- Peningkatan prosedur sanitasi kandang dengan penggunaan disinfektan yang terbukti efektif melawan virus panleukopenia.
- Penguatan sistem karantina dengan pengujian rutin pada feses dan sampel biologis satwa baru yang masuk.
- Pelatihan ulang bagi staf kebun binatang tentang penanganan penyakit menular pada satwa liar.
- Audit independen terhadap manajemen kebun binatang oleh tim gabungan BBKSDA dan Dinas Kehutanan.
Panggilan DPRD Jabar kepada BBKSDA dan Dinas Kehutanan
Setelah kematian harimau, DPRD Jawa Barat secara resmi memanggil BBKSDA dan Dinas Kehutanan untuk memberikan klarifikasi terkait prosedur penanggulangan wabah dan rencana aksi selanjutnya. Panggilan tersebut menandakan tekanan politik yang semakin kuat untuk memastikan tidak terulangnya kasus serupa.
Studi ilmiah terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Veterinary Research menunjukkan adanya kemiripan genetik antara virus panleukopenia yang terdeteksi pada harimau di Bandung Zoo dengan virus yang umum ditemukan pada kucing domestik di sekitar fasilitas. Temuan ini mengindikasikan kemungkinan kontaminasi silang dari hewan peliharaan atau staf yang tidak mematuhi protokol kebersihan.
Dengan latar belakang tersebut, pihak kebun binatang berkomitmen untuk melakukan de‑kontaminasi menyeluruh serta memperketat kontrol akses bagi semua personel yang masuk ke area satwa.
Tragedi Huru dan Hara menegaskan betapa pentingnya manajemen kebun binatang yang berbasis ilmiah dan transparan. Dedi Mulyadi, bersama dengan pemerintah daerah dan lembaga konservasi, diharapkan dapat mengimplementasikan reformasi yang memastikan kesejahteraan satwa menjadi prioritas utama, serta mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.




