Frankenstein45.Com – 14 April 2026 | Presiden Amerika Serikat yang ke-45, Donald J. Trump, baru-baru ini menghapus sebuah unggahan foto di media sosialnya yang menampilkan dirinya dengan pose yang menyerupai Yesus Kristus. Gambar tersebut memicu kemarahan luas, terutama di kalangan tokoh agama Kristen yang menilai tindakan itu sebagai penistaan terhadap kepercayaan mereka.
Reaksi cepat muncul dari berbagai pemimpin gereja, aktivis, dan pengguna internet yang menilai gambar itu tidak pantas. Beberapa menyatakan bahwa penggunaan simbol-simbol keagamaan untuk kepentingan pribadi dapat menimbulkan konflik sosial dan mengurangi rasa hormat terhadap nilai-nilai keagamaan.
- Tokoh Kristen menilai gambar tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap Yesus Kristus.
- Pengguna media sosial menuduh Trump mencoba memanfaatkan citra religius untuk meningkatkan popularitas.
- Beberapa analis politik menyebut kejadian ini sebagai contoh buruk dari penggunaan media pribadi oleh tokoh publik.
Trump membantah tuduhan bahwa ia sengaja meniru Yesus. Dalam pernyataan singkat, ia menegaskan bahwa foto itu hanyalah sebuah “selfie” biasa yang tidak dimaksudkan untuk menyinggung agama mana pun. Ia menambahkan bahwa niatnya hanyalah mengekspresikan diri, bukan menyatakan identitas keagamaan.
Setelah menerima tekanan publik, Trump memutuskan untuk menghapus foto tersebut dari semua platform yang ia kelola. Keputusan ini dianggap sebagai upaya meredam kontroversi yang terus berkembang, meskipun tidak menghentikan perdebatan tentang batasan kebebasan berekspresi publik dan sensivitas agama.
Kejadian ini menambah daftar insiden di mana figur publik menghadapi kritik tajam setelah menampilkan gambar atau pernyataan yang dianggap menyinggung nilai-nilai keagamaan. Para pengamat menilai bahwa era digital memperbesar dampak setiap unggahan, sehingga tokoh publik perlu lebih berhati-hati dalam menilai konsekuensi potensial dari setiap konten yang dibagikan.







