Trump Klaim Banyak Negara Bantu Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Membantah
Trump Klaim Banyak Negara Bantu Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Membantah

Trump Klaim Banyak Negara Bantu Blokade Selat Hormuz, Inggris Jadi yang Pertama Membantah

Frankenstein45.Com – 28 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim pada akhir pekan bahwa sejumlah negara siap membantu Amerika Serikat dalam mempertahankan blokade laut di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh Inggris, yang menjadi negara pertama yang menolak tuduhan itu dan menegaskan komitmen pada kebebasan navigasi internasional.

Latar Belakang Proposal Iran

Ketegangan di Selat Hormuz memuncak sejak Iran mengajukan proposal baru melalui perantara Pakistan untuk membuka kembali jalur perairan penting tersebut. Proposal itu menuntut pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Tehran sebagai syarat utama sebelum pembicaraan program nuklir Iran dapat dilanjutkan.

Menurut laporan media Amerika Serikat, termasuk New York Times dan Axios, proposal Iran berisi dua poin utama: (1) perpanjangan atau penetapan gencatan senjata yang bersifat permanen di wilayah itu, dan (2) penundaan pembicaraan nuklir sampai blokade AS dicabut. Iran menolak tuntutan Washington agar menghentikan semua pengayaan uranium, mengklaim haknya berdasarkan hukum internasional.

Reaksi Trump dan Pemerintahan AS

Trump menyatakan ketidakpuasan mendalam terhadap usulan Iran tersebut. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, ia menuduh bahwa menerima proposal itu berarti mengakui kegagalan kebijakan nuklirnya. “Mereka memberi kami selembar kertas yang seharusnya lebih baik, dan ketika saya batalkan pertemuan, dalam 10 menit mereka mengirimkan kertas baru yang jauh lebih baik,” ujar Trump kepada Bloomberg.

Pejabat Gedung Putih Olivia Wales menegaskan bahwa AS tidak akan bernegosiasi secara terbuka melalui media, dan bahwa keputusan apa pun harus mengutamakan kepentingan rakyat Amerika serta keamanan global. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menolak gagasan “tol” yang diyakini Iran akan kenakan pada kapal-kapal yang melintas, menekankan bahwa Selat Hormuz bukan milik satu negara.

Penolakan Inggris

Pemerintah Inggris, melalui Kementerian Luar Negeri, secara tegas menyatakan bahwa tidak ada negara yang secara resmi berjanji membantu blokade AS di Selat Hormuz. Duta Besar Inggris di Washington menegaskan bahwa Inggris mendukung prinsip kebebasan navigasi di perairan internasional dan menolak segala bentuk tekanan yang dapat mengganggu aliran minyak global.

Penolakan ini menjadi sorotan karena sebelumnya Inggris bersama sekutu Eropa lainnya telah mengkritik kebijakan blokade AS yang dianggap meningkatkan risiko konflik di kawasan Timur Tengah.

Dampak Ekonomi dan Regional

Selat Hormuz menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Pembatasan pelayaran yang diberlakukan oleh Iran dan blokade AS telah memicu lonjakan harga minyak Brent, yang mencapai US$108 per barel, atau setara dengan sekitar Rp1,8 juta per barel. Kenaikan ini menekan harga bensin, pupuk, dan bahan pangan di banyak negara.

Iran memperluas diplomasi dengan Rusia, Pakistan, dan Oman untuk mencari dukungan terhadap mekanisme tol yang diusulkan, sementara konflik telah menelan ribuan korban jiwa di wilayah tersebut. Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (USCENTCOM) melaporkan telah menghentikan atau memaksa berbalik sekitar 38 kapal yang mencoba memasuki pelabuhan Iran.

Kesimpulan

Ketegangan di Selat Hormuz kini berada pada persimpangan antara kepentingan geopolitik Amerika Serikat, tuntutan keamanan nuklir Iran, dan prinsip kebebasan navigasi internasional yang dijunjung tinggi oleh Inggris serta negara-negara Barat lainnya. Klaim Trump bahwa banyak negara siap membantu blokade AS belum terbukti, khususnya setelah penolakan tegas Inggris. Situasi ini menuntut dialog diplomatik yang seimbang, mengingat dampaknya yang luas terhadap pasar energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.