Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Washington — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV pada hari Rabu, menuding pemimpin Gereja Katolik tersebut membahayakan umat Katolik dengan sikapnya yang dianggap lunak terhadap program nuklir Iran. Dalam wawancara eksklusif dengan penyiar radio konservatif Hugh Hewitt, Trump menyatakan, “Paus Leo lebih memilih menganggap tidak apa‑apa bagi Iran memiliki senjata nuklir, dan itu sangat berbahaya bagi jutaan umat Katolik.”
Serangan verbal Trump ini muncul bersamaan dengan rencana kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, ke Vatikan pada 7 Mei 2026. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk meredakan ketegangan yang memuncak setelah Trump menuduh Paus “tidak peduli” pada ancaman Iran dan menuduh Italia, yang menjadi tuan rumah Paus, “tidak ada untuk Amerika Serikat.”
Latihan Retorika Trump Terhadap Paus
Trump memang tidak baru dalam melontarkan serangan terhadap pemimpin agama. Pada masa kepresidenannya, ia beberapa kali menyinggung Paus Fransiskus, namun kali ini fokusnya beralih kepada Paus Leo XIV yang lahir di Chicago dan menjabat sejak 2023. Trump menuduh Paus “menyebarkan pesan yang dapat memicu konflik di Timur Tengah” serta menganggap kebijakan luar negeri Washington seolah‑olah “diabaikan” oleh kepausan.
- Trump mengklaim Paus Leo “menyatakan tidak masalah bagi Iran memiliki senjata nuklir”.
- Trump menambahkan bahwa sikap tersebut “membahayakan umat Katolik di seluruh dunia”.
- Trump menuduh Italia “menjaga Paus” tanpa memperhatikan kepentingan keamanan Amerika.
Reaksi Italia dan Vatikan
Pemerintah Italia, melalui Kementerian Luar Negeri, segera memberi tanggapan resmi. Menteri Luar Negeri Italia, Giulia Rinaldi, menegaskan bahwa Italia menghormati kebebasan berpendapat dan menolak “serangan pribadi” terhadap Paus Leo XIV. “Paus adalah simbol universal perdamaian, bukan alat politik,” tegas Rinaldi dalam sebuah konferensi pers di Roma.
Vatikan sendiri menolak semua tuduhan Trump. Juru bicara kepausan menyatakan bahwa Paus Leo XIV “selalu menekankan pentingnya dialog, penangguhan senjata, dan penyelesaian damai”. Ia menegaskan tidak ada pernyataan resmi yang menyetujui program nuklir Iran, melainkan menolak segala bentuk konflik militer.
Upaya Diplomatik AS
Di sela‑sela ketegangan, Marco Rubio berencana mengadakan dialog terbuka dengan Paus Leo XIV. Tujuan utama pertemuan tersebut adalah menegosiasikan langkah‑langkah konkret untuk mencegah eskalasi militer di Timur Tengah, khususnya di wilayah Lebanon dan Suriah yang menjadi “titik panas” akibat persaingan kekuatan regional.
Rubio dijadwalkan akan mengunjungi Vatikan pada 7 Mei, bersama delegasi yang mencakup pejabat pertahanan dan penasihat kebijakan luar negeri. Dalam pernyataannya, Rubio menekankan bahwa “hubungan antara Amerika Serikat dan Gereja Katolik harus tetap kuat, meski ada perbedaan pandangan politik.”
Pengaruh Politik Dalam Negeri
Serangan Trump terhadap Paus Leo XIV juga dipandang sebagai strategi politik domestik menjelang pemilihan umum 2028. Dengan menyoroti “ancaman” dari tokoh agama internasional, Trump berupaya menumbuhkan rasa kebangsaan dan menegaskan posisi “America First” yang menjadi inti kampanyenya.
Para pengamat politik mencatat bahwa retorika anti‑Italia ini dapat memperburuk hubungan bilateral yang selama ini erat, terutama dalam bidang pertahanan NATO dan kerja sama intelijen. “Jika Trump terus mengabaikan peran Italia dalam keamanan Eropa, ada risiko keretakan aliansi strategis,” ujar Dr. Anita Pratama, pakar hubungan internasional di Universitas Indonesia.
Reaksi Publik dan Media Sosial
Reaksi publik di media sosial beragam. Di Twitter, hashtag #TrumpVsPope menjadi trending topic selama beberapa jam, dengan netizen membagi pendapat antara mendukung kebijakan keras Trump dan mengkritik serangan yang dianggap “menyudutkan kebebasan beragama”. Sementara di Italia, hashtag #ItaliaDukungPaus menampilkan dukungan luas terhadap Paus Leo XIV dan menolak intervensi politik luar negeri.
Berita ini juga mendapat sorotan di portal berita internasional seperti The Guardian, yang mencatat bahwa pernyataan Trump “memperparah ketegangan antara Washington dan Vatikan, serta menambah beban diplomatik bagi Italia.”
Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti kompleksitas hubungan antara kekuasaan politik, agama, dan keamanan global. Sementara Trump menuduh Italia “tidak ada untuk AS”, pemerintah Italia bersikeras bahwa perlindungan terhadap Paus adalah bagian dari identitas nasional dan nilai universal.
Dengan pertemuan mendatang antara Rubio dan Paus Leo XIV, dunia menantikan apakah dialog konstruktif dapat meredakan ketegangan atau justru menambah kerumitan hubungan internasional yang sudah tegang. Sementara itu, Trump tetap melanjutkan kritiknya, menegaskan bahwa “kita tidak boleh membiarkan kepausan mempengaruhi kebijakan keamanan Amerika.”




