Frankenstein45.Com – 15 Juni 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan kritik tajam kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, setelah serangan militer Israel ke wilayah Lebanon. Trump menanyakan mengapa Israel melakukan serangan yang ia sebut “sialan” itu, terutama pada saat kedua negara, Amerika Serikat dan Iran, tengah berupaya keras menegosiasikan sebuah kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah.
Berikut rangkaian peristiwa yang memicu kemarahan Trump:
- Israel melancarkan serangan udara ke sasaran di Lebanon, menargetkan pos-pos militer yang diduga terkait dengan kelompok bersenjata Hizbullah.
- Saat yang sama, Washington dan Teheran sedang melakukan pertemuan intensif untuk menurunkan ketegangan setelah serangkaian konfrontasi di wilayah tersebut.
- Trump menyatakan bahwa aksi Israel dapat mengganggu proses diplomatik yang sedang berlangsung dan menambah risiko eskalasi konflik.
Dalam pernyataan publiknya, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mendukung tindakan militer yang dapat merusak upaya perdamaian. Ia menambahkan bahwa Israel seharusnya menahan diri dan mencari solusi melalui dialog, bukan melalui serangan militer yang dapat memperburuk situasi.
Netanyahu, di sisi lain, membela keputusan tersebut dengan mengatakan bahwa serangan itu merupakan respons terhadap ancaman keamanan yang nyata dari pihak Hizbullah. Ia menekankan bahwa Israel harus melindungi warganya dan tidak dapat menahan serangan yang berpotensi menimbulkan bahaya bagi wilayahnya.
Kritik Trump ini menambah tekanan politik bagi Netanyahu, baik di dalam negeri Israel maupun dalam hubungan luar negeri. Pengamat politik menilai bahwa perseteruan ini dapat memengaruhi dinamika hubungan Israel‑AS, terutama dalam konteks kebijakan Timur Tengah yang sedang berubah.




