Frankenstein45.Com – 25 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tampak marah pada Senin (26/5/2026) setelah Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menuding Israel melakukan “pekerjaan kotor” dalam konflik regional. Pernyataan Scholz, yang disampaikan dalam konferensi pers di Berlin, memicu reaksi emosional Trump yang langsung mengkritik Berlin lewat akun media sosialnya, menyebut tuduhan itu tidak berdasar dan mengancam akan meninjau kembali dukungan militer AS kepada Israel.
Latihan diplomasi di tengah ketegangan
Sementara itu, pada hari sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pembicaraan telepon panjang dengan Trump. Diskusi berfokus pada upaya damai antara Washington dan Iran yang kini mendekati penandatanganan memorandum of understanding (MoU). Netanyahu menegaskan Israel tetap “bebas bertindak” terhadap segala ancaman, termasuk dari Lebanon dan Hizbullah, dan menolak tekanan untuk menurunkan operasi militer di wilayah tersebut.
Trump menanggapi dengan mendukung prinsip kedaulatan Israel, namun menegaskan bahwa setiap kesepakatan akhir dengan Iran harus mencakup pembongkaran program nuklir dan penghapusan uranium yang diperkaya. Ia menambahkan bahwa kesepakatan damai yang sedang dibahas dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Reaksi internasional
- Jerman: Scholz menegaskan bahwa tindakan Israel di Gaza dan operasi melawan Hizbullah “tidak dapat dibenarkan” dan meminta peninjauan ulang kebijakan bantuan militer.
- AS: Administrasi Trump menolak menurunkan bantuan militer, namun menyiapkan “peninjauan kebijakan” bila tuduhan itu terus berkembang.
- Israel: Netanyahu menolak campur tangan asing dalam keputusan keamanan nasional, mengingat ancaman langsung dari Hizbullah yang didukung Iran.
- Iran: Media resmi Tehran melaporkan bahwa draf kesepakatan damai mencakup komitmen tidak menyerang AS maupun sekutunya, serta tidak melakukan serangan pendahuluan.
Implikasi politik domestik
Di dalam negeri, pernyataan Trump memicu perdebatan di Kongres. Beberapa anggota Partai Demokrat menilai sikap agresif Trump dapat merusak hubungan trans-Atlantik, sementara sebagian anggota Partai Republik mendukung “kerasnya” kebijakan luar negeri yang menolak kritik Berlin.
Di Jerman, partai-partai koalisi pemerintah mengkritik pernyataan Scholz yang dianggap “menyudutkan” sekutu strategis. Namun, mereka menegaskan pentingnya penegakan hak asasi manusia dalam konflik yang berlangsung.
Potensi perkembangan selanjutnya
Jika tekanan diplomatik terus meningkat, ada kemungkinan Washington akan mengkaji kembali paket bantuan senjata senilai miliaran dolar yang selama ini diberikan kepada Israel. Sementara itu, Netanyahu berjanji akan terus memberi informasi terbaru kepada Trump mengenai operasi militer di perbatasan Lebanon, memastikan koordinasi yang “sangat baik” sebagaimana disebut dalam percakapan mereka.
Para analis memperkirakan bahwa negosiasi damai antara AS dan Iran akan menjadi titik balik utama dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Keberhasilan MoU dapat mengurangi ketegangan di Selat Hormuz, namun keberhasilan tersebut sangat bergantung pada sikap Israel terhadap Hizbullah dan kebijakan luar negeri Jerman.
Dalam suasana yang semakin tegang, Trump menutup pernyataan publiknya dengan menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan “menjadi boneka” dalam politik internasional, sekaligus menuntut klarifikasi resmi dari Berlin atas tuduhan “pekerjaan kotor” yang dianggapnya merusak aliansi NATO.
Kesimpulannya, insiden ini menyoroti kompleksitas hubungan tiga pilar utama—AS, Israel, dan Jerman—yang saling mempengaruhi kebijakan keamanan regional. Ketegangan politik domestik di masing‑masing negara serta dinamika perdamaian Iran‑AS menjadi faktor penentu apakah konflik ini dapat diredam atau justru bereskalasi lebih jauh.




