Frankenstein45.Com – 16 Mei 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Beijing pada Jumat, 15 Mei 2024, menandai berakhirnya kunjungan resmi singkatnya ke Republik Rakyat China. Kunjungan yang dijadwalkan selama tiga hari itu dimulai pada Selasa, 12 Mei, dengan agenda yang meliputi pertemuan bilateral dengan Presiden Xi Jinping, tur ke zona industri, serta diskusi mengenai isu perdagangan, keamanan, dan perubahan iklim.
Selama pertemuan di Istana Zhongnanhai, Trump menegaskan kembali komitmen administrasinya untuk menegakkan “kesepakatan perdagangan yang adil” dan menekan China agar mempercepat implementasi tarif yang sebelumnya ditetapkan oleh Washington. Xi, di sisi lain, menekankan pentingnya stabilitas hubungan kedua negara serta menolak setiap bentuk proteksionisme yang dapat mengganggu pasar global.
- Diskusi perdagangan: Kedua pemimpin membahas tarif impor, pembatasan ekspor teknologi, dan upaya mengurangi surplus perdagangan China.
- Isu keamanan: Trump menyoroti kekhawatiran terkait militerisasi Laut China Selatan, sementara Xi menegaskan kedaulatan wilayahnya.
- Perubahan iklim: Kedua pihak sepakat untuk melanjutkan kerja sama dalam energi bersih, meskipun tidak ada perjanjian konkret yang ditandatangani.
Selain pertemuan tingkat tinggi, Trump juga mengunjungi sebuah pabrik elektronik di Shenzhen, di mana ia menilai kemampuan produksi China yang “menakjubkan”. Kunjungan ini dipadukan dengan sesi tanya jawab dengan pengusaha lokal yang menekankan pentingnya pasar Amerika bagi ekspor mereka.
Kepulangan Trump disambut dengan protes kecil dari aktivis hak asasi manusia yang menuntut Beijing untuk meningkatkan kebebasan sipil. Sementara itu, kedutaan besar Amerika Serikat di Beijing mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa hubungan “tetap kuat” dan bahwa dialog akan terus berlanjut.
Para pengamat politik memperkirakan bahwa kunjungan ini, meskipun singkat, memberikan gambaran mengenai arah kebijakan luar negeri administrasi Trump pada tahun pertama kepresidenannya. Mereka mencatat bahwa tekanan pada China terkait tarif dan teknologi kemungkinan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan-pertemuan bilateral selanjutnya.




