ULM Temukan 14 Spesies Mangrove di Kawasan PBPH Kotabaru
ULM Temukan 14 Spesies Mangrove di Kawasan PBPH Kotabaru

ULM Temukan 14 Spesies Mangrove di Kawasan PBPH Kotabaru

Frankenstein45.Com – 02 Juni 2026 | Unit Penunjang Akademik (UPA) Lingkungan Lahan Basah Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil mengidentifikasi empat belas spesies mangrove yang tumbuh di kawasan Penangkaran Buah Pantai Hutan (PBPH) Kotabaru, Kalimantan Selatan. Penemuan ini menjadi bukti keberagaman hayati ekosistem mangrove di wilayah tersebut dan menegaskan pentingnya pelestarian kawasan pesisir.

Penelitian lapangan dilakukan selama tiga bulan, mulai dari Januari hingga Maret 2024, dengan metode survei visual dan pengambilan sampel daun untuk verifikasi taksonomi. Tim peneliti mencatat spesies berdasarkan ciri morfologi daun, akar napas, serta pola pertumbuhan.

Daftar Spesies Mangrove yang Ditemukan

  • Avicennia marina
  • Rhizophora mucronata
  • Rhizophora apiculata
  • Sonneratia alba
  • Sonneratia caseolaris
  • Bruguiera gymnorrhiza
  • Bruguiera cylindrica
  • Lumnitzera racemosa
  • Lumnitzera littorea
  • Xylocarpus granatum
  • Ceriops tagal
  • Ceriops decandra
  • Kandelia candel
  • Pemphis acidula

Keempat belas spesies tersebut mencakup tiga famili utama mangrove, yaitu Avicenniaceae, Rhizophoraceae, dan Sonneratiaceae, yang masing‑masing memiliki peran ekologi yang signifikan dalam menstabilkan tepi laut, menyerap karbon, dan menyediakan habitat bagi berbagai organisme laut.

Implikasi Penemuan

Penemuan ini memberikan dasar ilmiah bagi upaya rehabilitasi dan pengelolaan kawasan mangrove di Kalimantan Selatan. Dengan mengetahui variasi spesies yang ada, pihak berwenang dapat menyusun program penanaman kembali yang lebih tepat sasaran, memilih spesies yang paling adaptif terhadap kondisi lokal seperti tingkat salinitas, keasaman, dan intensitas gelombang.

Selain itu, data ini dapat memperkuat argumen bagi pemerintah daerah dalam mengajukan status kawasan PBPH Kotabaru sebagai zona konservasi mangrove, yang berpotensi meningkatkan dukungan pendanaan dan partisipasi masyarakat.

Rekomendasi Selanjutnya

  1. Melakukan monitoring tahunan untuk memantau pertumbuhan dan kesehatan populasi mangrove.
  2. Mengintegrasikan hasil temuan ke dalam kurikulum pendidikan lingkungan di sekolah‑sekolah setempat.
  3. Mendorong kolaborasi antara universitas, LSM, dan pemerintah daerah dalam program restorasi mangrove.
  4. Menjalin kerja sama dengan peneliti internasional untuk studi lebih lanjut tentang fungsi ekosistem dan nilai ekonomi jasa lingkungan.

Dengan dukungan berkelanjutan, diharapkan kawasan PBPH Kotabaru dapat menjadi contoh sukses konservasi mangrove yang meningkatkan ketahanan pantai dan kesejahteraan masyarakat pesisir.