Frankenstein45.Com – 21 April 2026 | Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 resmi digelar pada Selasa, 21 April 2026, menandai dimulainya rangkaian seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) selama sepuluh hari. Lebih dari 870.000 calon mahasiswa tersebar di ratusan pusat UTBK, menjalani serangkaian tes potensi skolastik, literasi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan penalaran matematika. Meskipun proses berjalan lancar, beberapa insiden kecurangan menguji kesiapan panitia dalam menegakkan integritas seleksi.
Pengawasan Ketat di Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
Di Unesa, panitia segera mengidentifikasi indikasi perjokian dan pemalsuan dokumen pada hari pertama. Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni, Martadi, menjelaskan bahwa risiko kecurangan khususnya pada program studi Kedokteran diprediksi sejak tahun sebelumnya. Menggunakan SOP berlapis, petugas menemukan dokumen ijazah dan kependudukan yang tidak sesuai foto, lalu melakukan verifikasi silang dengan data sekolah. Setelah ujian selesai, peserta yang terindikasi dipastikan diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut, bekerja sama dengan kepolisian dan panitia pusat UTBK.
Jadwal Sesi Siang yang Beragam
UTBK SNBT 2026 menyajikan dua sesi ujian per hari, pagi dan siang. Sesi siang menyesuaikan waktu setempat, mengingat kebutuhan salat Jumat di beberapa kampus. Contohnya, Universitas Diponegoro (Undip) memulai sesi siang pada pukul 13.15 WIB dan mengakhiri pada 17.00 WIB, sementara Universitas Brawijaya (UB) memulai pada 13.00 WIB hingga 16.45 WIB. Jadwal umum bagi peserta di zona WIB adalah masuk ruang ujian pukul 12.30‑12.35, pemeriksaan identitas hingga 12.55, latihan singkat hingga 13.00, tes potensi skolastik hingga 14.30, dan sesi literasi serta penalaran matematika hingga 16.15. Penyesuaian serupa berlaku untuk zona WITA dan WIT dengan selisih satu jam.
Kasus Alat Bantu di Telinga: Undip Menjadi Sorotan
Di kampus Undip, seorang peserta kedapatan menanamkan alat bantu dengar kecil di dalam telinga saat proses metal detector. Wakil Rektor I Undip, Heru Susanto, menjelaskan bahwa peserta tersebut dipanggil ke ruang pemeriksaan khusus yang dipimpin oleh panitia perempuan. Karena alat terlalu kecil untuk diambil secara manual, peserta dibawa ke klinik Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) kampus untuk penanganan medis. Proses interogasi memakan waktu hingga ujian selesai, sehingga peserta tidak dapat melanjutkan tes. Undip melaporkan temuan tersebut ke panitia pusat, menunggu keputusan sanksi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Temuan Praktik Curang Lainnya dan Respons Nasional
Ketua Umum Tim SNPMB 2026, Eduart Wolok, bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto, menegaskan bahwa dua skema kecurangan utama yang teridentifikasi adalah perjokian dokumen dan penggunaan alat bantu. Kedua kasus tersebut menimbulkan ancaman serius terhadap keadilan seleksi nasional. Eduart menyatakan bahwa sanksi tegas akan diberikan, mulai dari pengguguran peserta, pencoretan dari daftar seleksi, hingga tindakan hukum sesuai peraturan. Menteri Yuliarto menambahkan pentingnya kepercayaan diri peserta dan dukungan orang tua untuk menghindari godaan kecurangan.
Langkah Preventif dan SOP yang Diperkuat
Berbagai langkah preventif diterapkan secara serentak di seluruh pusat UTBK. Antara lain: pemeriksaan identitas berlapis, pembatasan barang bawaan, penggunaan tas pengaman, serta sandal khusus yang mengurangi ruang penyimpanan perangkat tersembunyi. Metal detector dipasang di pintu masuk, dan panitia dilengkapi dengan tim khusus yang terlatih mendeteksi tanda-tanda kecurangan. Koordinasi dengan aparat kepolisian memastikan setiap temuan dapat diproses secara hukum.
Secara keseluruhan, UTBK SNBT 2026 menunjukkan kesiapan sistem seleksi dalam menghadapi tantangan integritas. Meskipun beberapa insiden terungkap, respons cepat panitia, verifikasi data, dan penegakan SOP mencerminkan komitmen untuk menjaga keadilan bagi jutaan peserta. Diharapkan, pelajaran dari kasus Unesa, Undip, dan temuan nasional dapat memperkuat mekanisme pengawasan pada tahun‑tahun berikutnya, sehingga proses seleksi tetap menjadi jalur meritokrasi yang kredibel.




