Waisak 2570 BE Disemarakkan dengan Gerakan Ekoteologi dan Kepedulian Lingkungan
Waisak 2570 BE Disemarakkan dengan Gerakan Ekoteologi dan Kepedulian Lingkungan

Waisak 2570 BE Disemarakkan dengan Gerakan Ekoteologi dan Kepedulian Lingkungan

Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Perayaan Waisak pada tahun 2570 BE tahun ini tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga menjadi ajang aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan. Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimas Buddha menggandeng komunitas Buddha di seluruh Indonesia untuk melaksanakan gerakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta membersihkan rumah ibadah, termasuk Dhammasekha, PTKB, dan Fang Shen.

Gerakan 3R yang diluncurkan berfokus pada tiga langkah utama: pengurangan sampah plastik, penggunaan kembali barang-barang yang masih layak pakai, dan daur ulang material yang sudah tidak dapat dipakai lagi. Selama rangkaian acara Waisak, relawan dari berbagai sanggar Buddha menyiapkan pos daur ulang di pintu masuk vihara, mengedukasi pengunjung tentang pentingnya memilah sampah, serta membagikan tas kain ramah lingkungan sebagai pengganti kantong plastik.

  • Reduce: Penyelenggara acara meniadakan penggunaan botol plastik sekali pakai, menggantinya dengan dispenser air minum yang dapat diisi ulang.
  • Reuse: Penggunaan kembali bahan-bahan dekorasi dari perayaan Waisak sebelumnya, seperti lampion kain dan hiasan bunga kering.
  • Recycle: Tempat pengumpulan sampah terpisah untuk plastik, kertas, dan logam yang selanjutnya diserahkan ke lembaga daur ulang lokal.

Selain aksi 3R, kegiatan pembersihan masjid Buddha (RIAB), Dhammasekha, PTKB, dan Fang Shen dilakukan secara serentak. Tim kebersihan yang dipimpin oleh para biksu senior membersihkan area lantai, dinding, serta kebun sekitar, sekaligus menanam bibit pohon jati dan pepohonan lokal lainnya sebagai upaya penghijauan jangka panjang.

“Waisak bukan sekadar perayaan kelahiran, pencerahan, dan kematian Buddha, tetapi juga panggilan untuk menjaga bumi yang telah diberkati,” ujar Ketua Bimas Buddha, Dr. H. Brahma Sutrisno. “Dengan mengintegrasikan nilai ekoteologi, kami berharap umat Buddha dapat menjadi pelopor dalam perlindungan lingkungan di Indonesia.”

Pengaruh gerakan ini dirasakan oleh masyarakat luas. Para pengunjung melaporkan bahwa suasana vihara menjadi lebih bersih dan asri, serta mereka mendapatkan pemahaman baru tentang tanggung jawab ekologis yang selaras dengan ajaran Buddha. Beberapa komunitas berencana melanjutkan program serupa pada perayaan keagamaan berikutnya, termasuk Idul Fitri dan Natal.

Keberhasilan gerakan ini juga mendorong Kementerian Agama untuk mempertimbangkan kebijakan nasional yang mengintegrasikan prinsip ekoteologi dalam setiap perayaan keagamaan. Diharapkan, melalui kolaborasi lintas agama dan lembaga, Indonesia dapat menjadi contoh negara yang menggabungkan nilai spiritual dengan aksi lingkungan konkret.