Wall Street Tutup Menguat, IHSG Ikuti Tren Positif di Tengah Harapan Kesepakatan AS-Iran
Wall Street Tutup Menguat, IHSG Ikuti Tren Positif di Tengah Harapan Kesepakatan AS-Iran

Wall Street Tutup Menguat, IHSG Ikuti Tren Positif di Tengah Harapan Kesepakatan AS-Iran

Frankenstein45.Com – 29 April 2026 | Pasar saham global menunjukkan sentimen optimis pada penutupan perdagangan pekan ini, dipicu oleh harapan akan terwujudnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Indeks S&P 500 dan Nasdaq menutup pada level tertinggi sepanjang masa, sementara Dow Jones turun tipis. Di Asia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menguat, mencerminkan pola serupa.

Penguatan Wall Street

Hari Selasa, 28 April 2026, menjadi hari penting bagi dua indeks acuan utama Wall Street. S&P 500 naik 0,12 persen hingga 7.173,91 poin, menandai rekor tertinggi baru. Nasdaq Composite melaju 0,20 persen menjadi 24.887,10, sementara Dow Jones Industrial Average tergerus 62,92 poin atau 0,13 persen, berakhir pada 49.167,79. Kenaikan tersebut terjadi meski negosiasi damai Iran terhenti dan ketegangan di Selat Hormuz meningkatkan harga minyak dunia.

Para analis menilai bahwa dorongan bullish berasal dari ekspektasi bahwa Presiden AS Donald Trump dan timnya akan meninjau ulang tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, asalkan blokade dan sanksi dibatalkan. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Trump telah mengadakan pertemuan dengan tim keamanan nasional pada 27 April, namun belum ada kepastian resmi mengenai langkah selanjutnya.

Reaksi Pasar Asia

Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan indeks beragam. Jepang mencatat penurunan Nikkei 225 sebesar 0,49 persen setelah mencapai puncak pada sesi Senin, sementara Topix naik 0,23 persen. Korea Selatan mengalami melemahnya Kospi (–0,10 persen) dan Kosdaq (–0,92 persen). Di Australia, indeks ASX 200 tergerus 0,58 persen, dan Hong Kong Hang Seng Futures diperdagangkan di level 25.875, lebih rendah dari penutupan sebelumnya.

Indonesia menutup sesi perdagangan pada Rabu, 29 April 2026, dengan IHSG menguat 24,22 poin atau 0,34 persen menjadi 7.096,61. Kelompok 45 saham unggulan (LQ45) naik 2,56 poin atau 0,38 persen ke 684,88. Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa pasar masih berada dalam fase “wait and see” sambil menunggu stabilisasi kebijakan moneter global dan kejelasan geopolitik.

Kebijakan Moneter Global

Fokus utama pelaku pasar tetap pada keputusan kebijakan moneter. Federal Open Market Committee (FOMC) Federal Reserve dijadwalkan bertemu pada 28-29 April, dengan ekspektasi bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan. Sentimen serupa juga muncul pada European Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE), yang diperkirakan akan menahan suku bunga sementara menilai dampak perang terhadap inflasi.

Bank of Japan (BoJ) telah mempertahankan suku bunga pada level 0,75 persen, menegaskan bias hawkish meski mayoritas bank sentral global memilih pendekatan hati-hati.

Dimensi Geopolitik dan Energi

Konflik antara AS dan Iran kembali menjadi sorotan utama. Iran mengajukan proposal baru untuk mengakhiri konflik dua bulan dengan AS dan Israel, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang sempat dipertimbangkan sebagai de‑eskalasi. Namun, media internasional seperti Wall Street Journal dan Reuters melaporkan skeptisisme dari pihak AS karena proposal tersebut menunda pembahasan program nuklir, isu inti konflik sejak awal.

Presiden Trump menggambarkan situasi Iran sebagai “collapse” dan mendesak pembukaan Selat Hormuz meski ketegangan internal Tehran masih tinggi. Blokade laut AS terhadap ekspor energi Iran memperburuk risiko penurunan produksi dan kelangkaan bahan bakar, meningkatkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi yang lebih lama serta inflasi yang kembali menguat.

Faktor Domestik Indonesia

Di dalam negeri, pemerintah mengumumkan rencana pemotongan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari lima menjadi empat hari per minggu, sebagai upaya refocusing anggaran. Penghematan diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun per hari atau lebih dari Rp50 triliun per tahun.

Sementara itu, kolaborasi Indonesia‑China akan meluncurkan sistem pembayaran QR lintas negara pada 30 April 2026, memungkinkan pengguna QRIS, Alipay, dan WeChat Pay bertransaksi tanpa konversi tambahan. Langkah ini diharapkan memperkuat integrasi ekonomi regional.

Secara keseluruhan, pasar saham Asia menunjukkan pola penguatan yang selaras dengan sentimen positif di Wall Street, meski tetap dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter. Investor cenderung mengadopsi pendekatan hati-hati sambil menunggu kejelasan lebih lanjut dari negosiasi damai AS‑Iran dan hasil pertemuan bank sentral utama dunia.

Ke depan, arah pasar akan sangat dipengaruhi oleh dua faktor kunci: keputusan kebijakan moneter utama dan perkembangan diplomatik di Timur Tengah. Jika kesepakatan damai tercapai dan tekanan energi berkurang, kemungkinan besar indeks saham global akan melanjutkan tren naik. Sebaliknya, eskalasi lebih lanjut atau kebijakan moneter yang lebih ketat dapat memicu koreksi kembali.