Zeda Salim Buka Suara: Dukungan Kontroversial untuk Ammar Zoni di Tengah Gugatan Narkoba
Zeda Salim Buka Suara: Dukungan Kontroversial untuk Ammar Zoni di Tengah Gugatan Narkoba

Zeda Salim Buka Suara: Dukungan Kontroversial untuk Ammar Zoni di Tengah Gugatan Narkoba

Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Jakarta, 07 Mei 2026 – Seorang selebriti muda yang dikenal lewat media sosial, Zeda Salim, kembali menjadi sorotan publik setelah secara terbuka mengungkapkan hubungannya dengan aktor Ammar Zoni, yang baru-baru ini dijatuhi vonis tujuh tahun penjara karena kasus peredaran narkotika. Pernyataan Zeda menambah dinamika dalam proses hukum yang sedang berlangsung, sekaligus memicu perdebatan tentang batasan peran publik figur dalam kasus kriminal.

Latar Belakang Kasus Ammar Zoni

Pada April 2026, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat memutuskan Ammar Zoni bersalah dalam kasus penyalahgunaan dan peredaran sabu serta ganja sintetis. Ammar, yang sebelumnya dikenal sebagai aktor muda berkarier di industri hiburan, dijatuhi hukuman penjara tujuh tahun dan denda sebesar satu miliar rupiah. Meskipun memiliki hak untuk mengajukan banding, ia memilih tidak melakukannya. Sebagai gantinya, tim kuasa hukumnya, dipimpin oleh Krisna Murti, mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung dengan alasan terdapat kejanggalan dalam proses persidangan.

Zeda Salim dan Pengakuan Hubungan Pribadi

Di tengah sorotan media, Zeda Salim mengonfirmasi bahwa ia pernah menjalani Hubungan Tanpa Status (HTS) dengan Ammar Zoni. Dalam sebuah unggahan Instagram, Zeda menulis bahwa kedekatannya dengan Ammar tidak bersifat romantis, melainkan semata‑mata pertemanan yang melibatkan liburan bersama. Ia menambahkan bahwa hubungan tersebut telah berakhir, namun ia tetap menghormati perjuangan Ammar dalam proses hukum.

Selain itu, Zeda menyinggung isu fitnah yang pernah diarahkan kepadanya, mengungkapkan bahwa ia menahan keinginan untuk mengunjungi Ammar sejak tahun lalu karena takut menjadi bahan gosip. “Saya tidak ingin menjadi alat politik dalam kasus ini, namun saya juga tidak ingin melihat seorang teman diperlakukan tidak adil,” tulisnya.

Reaksi Publik dan Media Sosial

Pengakuan Zeda Salim segera menjadi topik hangat di media sosial. Banyak netizen yang memuji keberaniannya untuk berbicara terbuka, sementara yang lain menilai bahwa pernyataan tersebut dapat mempengaruhi opini publik dan proses hukum. Beberapa pengguna Twitter bahkan menuntut agar Zeda mengklarifikasi apakah dukungannya bersifat hukum atau sekadar simpati pribadi.

Di sisi lain, tim kuasa hukum Ammar, yang dipimpin Krisna Murti, menyatakan bahwa pernyataan Zeda tidak akan memengaruhi upaya Peninjauan Kembali. “Fokus kami tetap pada bukti‑bukti yang ada dan prosedur hukum yang berlaku,” ujar Krisna dalam konferensi pers pada 5 Mei 2026. “Kami menghargai setiap dukungan moral, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Mahkamah Agung.”

Langkah Hukum Selanjutnya

Setelah vonis inkracht, Ammar Zoni dijadwalkan untuk dipindahkan kembali ke Lapas Nusakambangan, sebuah institusi pemasyarakatan di Cilacap, Jawa Tengah. Kepala Subdirektorat Kerjasama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Rika Aprianti, menjelaskan bahwa proses pemindahan akan dilakukan setelah masa tenggang banding berakhir. “Jika tidak ada upaya banding dalam tujuh hari, kami akan menindaklanjuti dengan pemindahan sesuai prosedur yang telah ditetapkan,” kata Rika.

Tim hukum Ammar berencana mengajukan permohonan khusus kepada Dirjenpas agar proses pemindahan ditunda hingga hasil PK diumumkan. Mereka berargumen bahwa penundaan akan memberikan kesempatan bagi Ammar untuk tetap berada di luar Lapas selama proses hukum berlanjut, sehingga hak‑haknya tetap terjaga.

Implikasi Sosial dan Hukum

Kasus ini menyoroti betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap proses peradilan. Keterlibatan Zeda Salim, seorang influencer dengan jutaan pengikut, menambah lapisan kompleksitas dalam narasi hukum. Ahli hukum menilai bahwa meskipun dukungan moral tidak dapat dijadikan bukti, keberadaan publik figur yang menyuarakan pendapat dapat mempercepat perhatian publik dan, pada akhirnya, menuntut transparansi lebih besar dari institusi peradilan.

Di sisi lain, para aktivis hak asasi manusia menekankan pentingnya memisahkan antara fakta hukum dan opini publik. “Setiap terdakwa berhak atas proses peradilan yang adil tanpa tekanan eksternal,” ujar seorang pengacara independen yang tidak disebutkan namanya. “Namun, ketika selebriti terlibat, tekanan tersebut menjadi tak terhindarkan.”

Seiring dengan berjalannya waktu, keputusan Mahkamah Agung akan menjadi penentu utama bagi nasib Ammar Zoni. Sementara itu, Zeda Salim tampaknya berkomitmen untuk tetap berada di belakang layar, memberikan dukungan moral tanpa campur tangan langsung dalam proses hukum.

Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana dunia hiburan, hukum, dan media sosial dapat berinteraksi dalam dinamika publik yang kompleks. Semua pihak menantikan perkembangan selanjutnya, baik dari sisi putusan PK maupun respons resmi lembaga pemasyarakatan terkait pemindahan Ammar Zoni.