Frankenstein45.Com – 18 Juni 2026 | Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa sekitar 20 persen generasi Z di Indonesia terjun ke dunia investasi tanpa memahami sepenuhnya risiko yang melekat. Fenomena ini dipicu oleh rasa takut ketinggalan (FOMO) yang semakin kuat di kalangan anak muda, terutama setelah lonjakan popularitas platform investasi digital.
Berikut beberapa temuan penting dari survei OJK:
| Aspek | Persentase |
|---|---|
| Gen Z yang berinvestasi tanpa pengetahuan risiko | 20% |
| Remaja yang belum memiliki literasi keuangan dasar | 35% |
Risiko utama yang dihadapi investor muda meliputi volatilitas pasar, kurangnya diversifikasi, serta potensi penipuan online. Tanpa strategi yang matang, kerugian dapat terjadi dalam waktu singkat, bahkan menggerus tabungan jangka panjang.
OJK menekankan pentingnya peningkatan literasi finansial melalui langkah-langkah berikut:
- Mengikuti program edukasi keuangan yang diselenggarakan oleh lembaga resmi atau kampus.
- Memanfaatkan sumber belajar gratis, seperti modul daring, webinar, dan podcast yang fokus pada dasar‑dasar investasi.
- Memulai investasi dengan jumlah kecil dan produk yang mudah dipahami, misalnya reksa dana pasar uang.
- Menghindari keputusan impulsif yang dipicu oleh tren media sosial atau rekomendasi tidak terverifikasi.
Selain upaya individu, peran pemerintah dan regulator juga krusial. OJK berencana menambah jumlah pelatihan literasi keuangan di sekolah menengah dan universitas, serta memperketat regulasi platform investasi daring untuk melindungi investor pemula.
Dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, generasi Z diharapkan dapat memanfaatkan peluang investasi secara lebih bijak, mengurangi dampak FOMO, dan membangun pondasi keuangan yang kuat untuk masa depan.







