Akui Bakal Ada Shifting Usai Pertamax Naik, Purbaya Belum Hitung Potensi Pembengkakan Subsidi/Kompensasi
Akui Bakal Ada Shifting Usai Pertamax Naik, Purbaya Belum Hitung Potensi Pembengkakan Subsidi/Kompensasi

Akui Bakal Ada Shifting Usai Pertamax Naik, Purbaya Belum Hitung Potensi Pembengkakan Subsidi/Kompensasi

Frankenstein45.Com – 18 Juni 2026 | Pertamina mengumumkan kenaikan harga bahan bakar bersubsidi Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter, naik dari tarif sebelumnya. Menteri BUMN atau pejabat terkait, Budi Purbaya, mengakui bahwa kenaikan ini dapat memicu pergeseran konsumsi (shifting) konsumen ke bahan bakar lain yang lebih murah.

Shifting biasanya terjadi ketika konsumen beralih dari produk yang harganya naik ke alternatif yang lebih ekonomis, misalnya beralih ke solar atau bahan bakar non‑B3. Hal ini dapat menurunkan volume penjualan Pertamax dan mengubah pola permintaan di pasar energi nasional.

Namun, Purbaya menyatakan bahwa perhitungan potensi pembengkakan subsidi atau kompensasi belum selesai. Pemerintah masih menilai dampak kenaikan harga terhadap beban subsidi, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang masih mengandalkan Pertamax untuk kendaraan pribadi.

  • Target harga baru: Rp 16.250 per liter.
  • Kemungkinan pergeseran ke: solar, bahan bakar alternatif, atau kendaraan listrik.
  • Faktor yang memengaruhi: tingkat pendapatan, kebijakan subsidi, dan harga minyak dunia.

Jika pergeseran konsumsi terjadi secara signifikan, pemerintah mungkin harus menyiapkan paket kompensasi atau penyesuaian subsidi agar beban harga tidak memberatkan lapisan masyarakat tertentu. Penilaian ini masih dalam tahap awal, dan akan dipantau secara berkala oleh Kementerian BUMN serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPHA).

Pengamat ekonomi memperingatkan bahwa tanpa perencanaan yang matang, kenaikan harga dapat menimbulkan efek domino, termasuk inflasi pada sektor transportasi dan logistik. Oleh karena itu, koordinasi lintas kementerian dan dialog dengan pelaku industri menjadi kunci untuk mengantisipasi dampak jangka pendek maupun jangka panjang.