Frankenstein45.Com – 30 April 2026 | Klaten, Jawa Tengah – Sejumlah besar siswa dan guru di Kecamatan Tulung, Klaten, mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga akhir pekan, jumlah korban yang terdeteksi mencapai 135 orang, terdiri dari 122 siswa dan 13 guru. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam proses penyediaan makanan dan menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak.
Chronology of the incident
Pada malam 28 April 2026, menu MBG yang disajikan di 17 sekolah penerima manfaat di wilayah Tulung, Klaten, meliputi sop galantin, nasi, serta lauk-pauk lainnya. Tidak lama setelah menyantap makanan tersebut, para siswa melaporkan mual, muntah, diare, dan pusing. Pada pagi harinya, gejala tersebut semakin meluas, memaksa sejumlah orang tua dan pihak sekolah membawa korban ke Puskesmas Majegan dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Jatinom.
Awal laporan mencatat 189 orang yang mengalami gejala, namun pada 30 April jumlah tersebut naik drastis menjadi sekitar 500 orang menurut pernyataan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten, Anggit Budiarto. Data akhir yang dapat diverifikasi oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan menunjukkan total korban yang terkonfirmasi sebanyak 135 orang.
Respons Pemerintah Daerah dan Kesehatan
Anggit Budiarto menegaskan bahwa sebagian besar korban menunjukkan gejala ringan dan tidak memerlukan perawatan intensif. Empat siswa yang semula dirawat di puskesmas telah dipulangkan setelah kondisi membaik, sementara enam siswa masih dirawat inap di rumah sakit PKU Muhammadiyah Jatinom. Pihak Dinas Kesehatan terus melakukan konfirmasi data riil bersama puskesmas dan dinas pendidikan setempat.
Selain di Klaten, kasus serupa juga terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara, di mana 12 siswa SD Swasta Terpadu As Syifa mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada 28 April. Delapan di antaranya dirawat di Puskesmas Pagar Merbau, dan kepala BGN Sumut, Agung Kurniawan, menyatakan bahwa penyebab diduga ayam yang tidak segar.
Pengakuan dan Permintaan Maaf BGN
Dalam konferensi pers yang digelar pada 1 Mei 2026, Dadan Hindayana mengaku bahwa terdapat kelalaian dalam prosedur kontrol kualitas makanan yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menekankan bahwa BGN telah mengaktifkan tim investigasi khusus untuk menelusuri rantai pasokan, mulai dari bahan baku hingga distribusi ke sekolah.
“Kami sangat menyesal atas kejadian ini dan meminta maaf kepada siswa, guru, orang tua, serta seluruh masyarakat yang terdampak. Kami berkomitmen meningkatkan standar keamanan pangan MBG secara menyeluruh,” ujar Hindayana.
Langkah-Langkah Perbaikan
- Penutupan sementara semua SPPG yang terlibat hingga hasil uji laboratorium memastikan keamanan makanan.
- Peningkatan pelatihan bagi petugas dapur sekolah mengenai prosedur kebersihan dan penyimpanan bahan makanan.
- Penerapan sistem audit internal yang lebih ketat dengan melibatkan lembaga independen.
- Pengawasan intensif dari Dinas Kesehatan dan Badan Gizi Nasional pada setiap distribusi MBG.
Data Ringkas Kasus
| Wilayah | Jumlah Siswa | Jumlah Guru | Total Korban |
|---|---|---|---|
| Klaten (Tulung) | 122 | 13 | 135 |
| Deli Serdang (As Syifa) | 12 | 0 | 12 |
Dengan adanya data tersebut, pihak berwenang menegaskan bahwa semua korban akan terus dipantau hingga pulih sepenuhnya. Selain itu, pemerintah daerah dan BGN berjanji untuk tidak menghentikan program MBG secara keseluruhan, melainkan memperbaiki mekanisme pelaksanaannya agar tidak terulang kembali.
Kasus keracunan MBG ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan bahwa keamanan pangan di lingkungan sekolah harus menjadi prioritas utama. Upaya kolaboratif antara pemerintah, BGN, serta penyedia makanan diharapkan dapat memastikan bahwa program gizi gratis tetap memberikan manfaat tanpa mengorbankan kesehatan generasi muda.




