Frankenstein45.Com – 07 Mei 2026 | Menurut data terbaru yang disampaikan oleh Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, masih terdapat sekitar 15 juta warga Indonesia berusia produktif yang belum memiliki rekening bank. Angka ini mencerminkan tantangan signifikan dalam upaya inklusi keuangan di negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa.
Anggito menegaskan bahwa tidak memiliki rekening bank dapat menghambat akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal, termasuk tabungan, kredit, serta program bantuan pemerintah yang kini banyak disalurkan secara digital. “Tanpa rekening, masyarakat menjadi rentan terpinggirkan dari ekosistem ekonomi modern,” ujarnya dalam konferensi pers.
Berikut beberapa poin utama yang disampaikan Ketua LPS:
- Target inklusi keuangan nasional belum tercapai; tingkat kepemilikan rekening masih di bawah 60 persen.
- Kelompok usia produktif (15‑64 tahun) menyumbang mayoritas yang belum terbankkan, terutama di daerah pedesaan dan wilayah dengan akses layanan terbatas.
- LPS akan memperkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan bank-bank untuk menyederhanakan prosedur pembukaan rekening.
- Pemerintah diharapkan menambah insentif bagi lembaga keuangan yang berhasil menjangkau komunitas belum terlayani.
Data internal LPS menunjukkan distribusi geografis yang tidak merata. Pada provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, persentase penduduk tanpa rekening mencapai lebih dari 20 persen, sedangkan di wilayah DKI Jakarta dan Bali angka tersebut berada di bawah 10 persen.
| Wilayah | Persentase Tanpa Rekening |
|---|---|
| Jawa Barat | 22% |
| Jawa Tengah | 21% |
| Sumatera Utara | 20% |
| DKI Jakarta | 8% |
| Bali | 9% |
Ketua LPS mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan komunitas, untuk bersama‑sama meningkatkan literasi keuangan serta memperluas jaringan cabang atau layanan digital. Ia menutup pernyataannya dengan harapan bahwa dalam lima tahun ke depan, angka warga tanpa rekening dapat turun secara signifikan, mendekati target inklusi nasional sebesar 80 persen.




