Frankenstein45.Com – 29 Juni 2026 | Rasio pengeluaran transportasi yang menggerogoti hampir empat persepuluh pendapatan guru honorer menimbulkan kekhawatiran akan kelelahan mental dan fisik. Banyak guru yang harus menempuh jarak jauh dengan biaya tinggi untuk mencapai sekolah, terutama di daerah terpencil, terluar, dan terdepan (3TP). Dengan gaji yang terbatas, alokasi dana untuk transportasi menyisakan sisa pendapatan yang minim untuk kebutuhan pokok.
Data yang dihimpun menunjukkan bahwa rata-rata guru honorer menghabiskan antara 35-45 persen dari total gaji bulanan untuk biaya perjalanan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan guru tetap yang biasanya mendapatkan tunjangan transportasi tambahan. Akibatnya, guru honorer melaporkan gejala kelelahan, penurunan motivasi, dan bahkan pertimbangan untuk berpindah pekerjaan.
Beberapa faktor penyebab tingginya biaya transportasi antara lain:
- Keterbatasan jaringan transportasi umum di wilayah 3TP.
- Biaya bahan bakar yang terus naik.
- Kebutuhan untuk menggunakan kendaraan pribadi atau sewa demi menjangkau sekolah.
Untuk mengurangi beban ini, para ahli pendidikan dan organisasi guru mengusulkan beberapa langkah kebijakan:
- Pemberian tarif khusus atau subsidi transportasi bagi guru honorer yang bekerja di daerah 3TP.
- Pengembangan layanan angkutan perintis yang menghubungkan desa-desa terpencil dengan pusat pendidikan.
- Penambahan tunjangan transportasi dalam paket remunerasi guru honorer.
- Kolaborasi antara pemerintah daerah dan operator transportasi lokal untuk menciptakan rute yang lebih efisien.
Jika dukungan tersebut tidak segera diwujudkan, risiko burnout di kalangan guru honorer dapat meningkat, berdampak pada kualitas pembelajaran dan tingkat kehadiran siswa. Upaya preventif kini menjadi penting untuk memastikan tenaga pendidik tetap produktif dan terjaga kesejahteraannya.




