Frankenstein45.Com – 22 Juni 2026 | Sejak pecahnya bentrokan bersenjata pada 2 Desember 2018, lebih dari sepuluh ribu warga di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, terpaksa mengungsi dan hidup dalam kondisi yang sangat rentan.
Latar Belakang Konflik
Konflik bersenjata yang melibatkan kelompok bersenjata lokal dan aparat keamanan menyebabkan penghancuran rumah, fasilitas publik, serta terhambatnya akses bantuan kemanusiaan. Akibatnya, hingga kini masih tercatat 10.272 orang yang berada dalam status pengungsi internal.
Permintaan Leri Gwijangge
Leri Gwijangge, tokoh masyarakat dan mantan pejabat daerah, menekankan bahwa sudah lewat tujuh tahun sejak warga pertama kali mengungsi. Ia menuntut pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengakhiri krisis kemanusiaan dengan membuka jalur bantuan, mempercepat proses reintegrasi, serta membangun kembali infrastruktur dasar seperti sekolah, puskesmas, dan jaringan listrik.
Kondisi Pengungsi Saat Ini
Pengungsi di Nduga sebagian besar tinggal di kamp darurat yang belum memiliki fasilitas sanitasi memadai. Kekurangan pangan, air bersih, serta layanan kesehatan menjadi masalah kronis yang memperparah situasi.
| Tahun | Jumlah Pengungsi (orang) |
|---|---|
| 2018 | ~10.272 |
| 2019 | ~10.272 |
| 2020 | ~10.272 |
| 2021 | ~10.272 |
| 2022 | ~10.272 |
| 2023 | ~10.272 |
| 2024 | ~10.272 |
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah pengungsi belum berkurang secara signifikan selama tujuh tahun terakhir, menandakan kegagalan penanganan krisis yang berkelanjutan.
Harapan dan Tantangan Kedepan
- Penyaluran bantuan yang lebih terkoordinasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan lembaga kemanusiaan.
- Pembangunan kembali infrastruktur dasar untuk memfasilitasi kembalinya penduduk ke desa asal.
- Dialog damai yang melibatkan semua pihak terkait untuk menghentikan kekerasan secara permanen.
- Peningkatan kapasitas layanan kesehatan dan pendidikan di wilayah terdampak.
Dengan tekanan publik yang semakin kuat, diharapkan pemerintah akan menanggapi seruan Leri Gwijangge dan mengimplementasikan langkah konkret untuk mengakhiri penderitaan warga Nduga.




