Frankenstein45.Com – 03 Mei 2026 | Musim kompetisi Super League 2025/2026 semakin mendekati puncaknya, namun sejumlah klub masih bergulat dengan keputusan transfer yang dinilai tidak memberikan nilai tambah bagi tim. Delapan perpindahan pemain yang terjadi pada paruh musim ini menjadi sorotan karena dianggap tidak efektif, baik dari segi performa maupun beban keuangan. Di antara klub‑klub yang paling banyak menimbulkan kekecewaan, Persib Bandung menempati posisi teratas, sementara Persija Jakarta berada di urutan kedua.
Latar Belakang Transfer Paruh Musim
Setelah jeda libur panas, klub‑klub Liga Indonesia membuka jendela transfer untuk memperkuat skuad menjelang sisa kompetisi. Tujuan utama biasanya adalah menambah kedalaman tim, menutup kekosongan posisi, atau meningkatkan kualitas lini serang. Namun, tidak semua akuisisi mampu menyesuaikan dengan kebutuhan taktis atau adaptasi pemain di kompetisi domestik.
Daftar 8 Transfer Mubazir
- Aymen Hussein (Persib Bandung) – Penyerang Timnas Irak yang sempat masuk radar Maung Bandung. Meskipun memiliki rekam jejak internasional, ia belum menunjukkan konsistensi dalam latihan dan belum mendapatkan menit bermain yang signifikan di Liga Indonesia.
- Moussa Sidibe (Persib Bandung) – Pemain sayap berdarah Mali yang sempat ditolak oleh JDT dan kemudian pindah ke Bhayangkara FC sebelum akhirnya dirumorkan kembali ke Persib. Performanya di Bhayangkara (12 gol, 6 assist dalam 13 laga) terkesan, namun adaptasi ke taktik Bojan Hodak masih belum terbukti.
- Rizky Pratama (Persija Jakarta) – Gelandang kreatif yang didatangkan dari klub Liga 2 dengan harapan meningkatkan kreativitas lini tengah. Sayangnya, ia hanya mencatat tiga penampilan singkat tanpa kontribusi gol atau assist.
- Fajar Nugroho (Persija Jakarta) – Bek sayap yang dipilih untuk menambah opsi defensif. Namun, cedera otot pada minggu pertama membuatnya absen selama enam pertandingan, mengakibatkan Persija kehilangan pilihan rotasi.
- Hendra Kurniawan (Madura United) – Striker yang diharapkan menjadi penyerang utama, namun hanya mencetak satu gol dalam sepuluh penampilan dan sering kali kehilangan peluang emas.
- Andi Saputra (Bali United) – Gelandang bertahan yang dibeli dengan nilai transfer tinggi. Penampilannya tidak konsisten, dan ia sering digantikan oleh pemain cadangan dalam situasi penting.
- Yusuf Dwi (PSIS Semarang) – Penyerang muda yang dipinjam dari klub Asia Timur. Penyesuaian taktik dan bahasa menjadi kendala, membuatnya hanya menembus tiga menit di lapangan.
- Agus Setiawan (PSM Makassar) – Penjaga gawang yang dipindahkan dengan harapan menjadi starter, namun performanya di bawah standar, menyebabkan timnya kebobolan banyak gol pada dua laga terakhir.
Analisis Mengapa Transfer Ini Gagal
Berbagai faktor menjadi penyebab utama kegagalan transfer tersebut. Pertama, kurangnya riset taktik sebelum akuisisi. Contohnya, Aymen Hussein memang memiliki kualitas individu, tetapi gaya permainan tim Persib yang menekankan pressing tinggi tidak cocok dengan karakteristiknya. Kedua, masalah adaptasi budaya dan bahasa, terlihat jelas pada pemain asing seperti Moussa Sidibe dan Yusuf Dwi yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri.
Selanjutnya, faktor cedera menjadi penghalang utama. Fajar Nugroho mengalami cedera otot yang menghambat kontribusinya, sedangkan beberapa pemain lain harus melewatkan latihan intensif karena masalah kebugaran. Terakhir, tekanan finansial juga berperan. Transfer dengan nilai tinggi tanpa jaminan performa dapat membebani anggaran klub, mengurangi fleksibilitas dalam pasar transfer selanjutnya.
Persib Bandung: Kejam dalam Menyerap Transfer
Persib Bandung, yang saat ini memimpin klasemen sementara dengan 69 poin, memang menunjukkan dominasi di lapangan. Namun, di balik prestasinya, kebijakan transfer klub ini menimbulkan pertanyaan. Upaya menambah skuad dengan Aymen Hussein dan Moussa Sidibe tampak lebih mengincar nama besar daripada kebutuhan nyata tim. Meskipun tim berhasil meraih kemenangan 4-2 atas Bhayangkara FC pada 30 April 2026, kontribusi pemain baru tersebut masih belum terlihat jelas. Kritikus menilai bahwa Persib lebih fokus pada “branding” pemain internasional daripada memperkuat kedalaman skuad yang sudah ada.
Persija Jakarta: Mengikuti Jejak yang Sama
Persija Jakarta, yang berada di posisi tiga klasemen, juga tidak lepas dari kritik. Transfer Rizky Pratama dan Fajar Nugroho diharapkan memberi dorongan kreatif dan defensif. Sayangnya, performa mereka jauh di bawah ekspektasi. Persija kini harus mengandalkan pemain lama untuk menutup kekosongan, yang menambah beban pada pemain inti.
Keputusan manajerial kedua klub ini mengundang pertanyaan tentang strategi jangka panjang. Apakah fokus pada nama besar akan menghasilkan gelar, atau justru menguras sumber daya tanpa hasil konkret?
Kesimpulan
Delapan transfer yang terjadi pada paruh musim 2025/2026 menunjukkan bahwa tidak semua akuisisi pemain dapat menjamin peningkatan performa tim. Persib Bandung menonjol sebagai klub yang paling “kejam” dalam menyerap pemain yang belum terbukti, sementara Persija Jakarta mengikuti jejak serupa. Kedepannya, klub‑klub di Liga Indonesia perlu mengedepankan analisis taktis yang mendalam, evaluasi risiko cedera, dan manajemen keuangan yang bijak sebelum mengumumkan perpindahan pemain. Hanya dengan pendekatan yang lebih terukur, harapan akan gelar juara dapat terwujud tanpa menimbulkan beban transfer yang sia-sia.




