Frankenstein45.Com – 17 Juni 2026 | Pemerintah Indonesia kembali menegaskan komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada impor bawang putih, yang saat ini masih mencapai sekitar 90 persen dari total kebutuhan nasional. Harga bawang putih yang fluktuatif dan sering melonjak mengancam stabilitas pasokan pangan serta daya beli konsumen.
Untuk mencapai swasembada, kementerian terkait telah merancang serangkaian langkah strategis yang akan diimplementasikan mulai tahun depan. Langkah‑langkah tersebut meliputi:
- Peningkatan dukungan finansial bagi petani melalui subsidi benih, pupuk, dan alat pertanian modern.
- Pembentukan kawasan produksi bawang putih unggulan di provinsi‑provinsi penghasil, seperti Jawa Barat, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat.
- Pengembangan varietas bawang putih yang adaptif terhadap iklim tropis dan tahan terhadap hama.
- Penyediaan fasilitas pengolahan pasca panen, termasuk pengeringan dan penyimpanan berskala industri.
- Penerapan kebijakan tarif impor yang lebih ketat, sekaligus memberikan insentif bagi pelaku usaha lokal yang meningkatkan produksi.
Target jangka menengah pemerintah adalah menurunkan persentase impor menjadi di bawah 30 persen dalam lima tahun ke depan. Berikut perkiraan target tahunan:
| Tahun | Persentase Impor yang Diharapkan |
|---|---|
| 2024 | 90% |
| 2025 | 70% |
| 2026 | 50% |
| 2027 | 30% |
| 2028 | 20% |
Selain dukungan produksi, pemerintah juga berencana meningkatkan akses pasar bagi petani melalui platform digital yang memfasilitasi penjualan langsung ke konsumen dan industri pengolahan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat rantai nilai bawang putih domestik, menurunkan biaya logistik, serta meningkatkan pendapatan petani.
Jika langkah‑langkah ini dijalankan secara terintegrasi, diharapkan Indonesia dapat mengurangi ketergantungan impor, menstabilkan harga, dan menciptakan kemandirian pangan dalam sektor bawang putih.




