Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Data akhir 2025 menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 20 juta orang yang terdaftar sebagai investor pasar modal, tepatnya 20,32 juta Single Investor Identification (SID). Angka ini menandakan pertumbuhan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun, besarnya angka tidak serta-merta berarti mayoritas pemilik SID memahami atau aktif berinvestasi. Survei lembaga keuangan independen mengungkapkan bahwa hanya sekitar 12% dari total investor yang melakukan transaksi secara reguler, sementara sisanya lebih banyak menahan dana atau hanya memiliki akun tanpa aktivitas.
| Kategori Investor | Persentase |
|---|---|
| Investor aktif (transaksi reguler) | 12% |
| Investor pasif (hanya memiliki akun) | 68% |
| Investor baru (daftar < 1 tahun) | 20% |
Faktor utama yang memengaruhi rendahnya literasi investasi meliputi kurangnya edukasi keuangan di tingkat sekolah, ketidakpastian ekonomi, serta persepsi risiko yang tinggi. Sebagian besar masyarakat masih mengandalkan produk simpanan tradisional seperti tabungan dan deposito, yang dianggap lebih aman.
- Keterbatasan edukasi: Kurikulum sekolah belum memasukkan materi keuangan dasar secara menyeluruh.
- Ketakutan risiko: Fluktuasi pasar modal dianggap menakutkan, terutama bagi generasi yang belum pernah berinvestasi.
- Akses informasi: Meskipun platform digital memudahkan akses, informasi yang tersedia seringkali tidak terstruktur atau terlalu teknis.
Untuk meningkatkan proporsi investor yang melek, pemerintah dan otoritas pasar modal telah meluncurkan program literasi keuangan, seperti program “FinTech for All” dan kampanye edukasi melalui media sosial. Selain itu, perusahaan sekuritas berupaya menyederhanakan proses pembukaan akun serta menyediakan materi edukatif dalam bentuk video pendek.
Jika upaya edukasi ini berhasil, diharapkan persentase investor aktif dapat naik menjadi 25% dalam lima tahun ke depan, yang tidak hanya meningkatkan partisipasi pasar modal tetapi juga memperkuat ketahanan finansial rumah tangga.




