Frankenstein45.Com – 30 Juni 2026 | Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Prof. Arida Susilowati, menegaskan bahwa perubahan iklim kini menjadi tantangan multidimensi bagi ketahanan pangan Indonesia. Menurutnya, fluktuasi suhu, pola curah hujan yang tidak menentu, serta peningkatan frekuensi bencana alam seperti banjir dan kekeringan mengancam produktivitas pertanian secara signifikan.
Beberapa dampak utama yang diidentifikasi meliputi:
- Peningkatan suhu rata-rata yang memperpendek masa tanam dan menurunkan hasil panen pada tanaman utama seperti padi dan jagung.
- Variabilitas curah hujan yang menyebabkan daerah rawan kekeringan sekaligus meningkatkan risiko banjir, mengganggu siklus irigasi.
- Serangan hama dan penyakit yang lebih intensif akibat kondisi iklim yang lebih hangat.
- Degradasi tanah akibat erosi dan penurunan kesuburan, memperburuk kemampuan tanah untuk menahan stres iklim.
Prof. Arida menekankan bahwa solusi tidak dapat hanya bersifat sektoral. Diperlukan sinergi antara penelitian akademik, kebijakan pemerintah, inovasi teknologi, serta partisipasi aktif petani. Beberapa langkah strategis yang diusulkan antara lain:
- Mengembangkan varietas tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi, kekeringan, dan serangan hama.
- Memperluas penggunaan praktik pertanian berkelanjutan, seperti agroforestry dan konservasi air.
- Menyiapkan sistem peringatan dini berbasis data iklim untuk membantu petani mengatur jadwal tanam.
- Meningkatkan kapasitas riset institusi pendidikan tinggi dalam bidang klimatologi dan agronomi.
- Mendorong kebijakan insentif bagi petani yang mengadopsi teknologi adaptif.
Dengan pendekatan holistik, akademisi berharap Indonesia dapat memperkuat ketahanan pangan meski menghadapi tekanan perubahan iklim yang semakin kompleks.




