Akademisi UGM: Prodi tak Releven di Perguruan Tinggi Dihapus Bak Keputusan Rabun Jauh
Akademisi UGM: Prodi tak Releven di Perguruan Tinggi Dihapus Bak Keputusan Rabun Jauh

Akademisi UGM: Prodi tak Releven di Perguruan Tinggi Dihapus Bak Keputusan Rabun Jauh

Frankenstein45.Com – 22 Mei 2026 | Wisnu Setiadi Nugroho, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), mengkritisi rencana pemerintah yang akan menutup sejumlah program studi dianggap tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Menurutnya, kebijakan tersebut mirip dengan keputusan yang diambil tanpa kajian mendalam, layaknya “rabun jauh” yang menutup mata pada potensi dan diversitas akademik.

Ia menekankan bahwa penentuan relevansi suatu program studi tidak boleh hanya didasarkan pada data statistik semata, melainkan harus memperhatikan kontribusi ilmu pengetahuan, kebutuhan regional, serta peran strategis dalam pengembangan sumber daya manusia. Penutupan program secara sepihak dapat menimbulkan dampak negatif, antara lain:

  • Berkurangnya pilihan bagi calon mahasiswa yang memiliki minat khusus.
  • Terhambatnya penelitian dan inovasi di bidang-bidang niche.
  • Penurunan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan karena fokus yang terlalu sempit.

Selain itu, Wisnu menyoroti bahwa beberapa program yang dianggap “tidak relevan” justru memiliki nilai historis dan budaya yang penting bagi identitas institusi. Ia mengusulkan pendekatan yang lebih inklusif, yakni:

  1. Mengadakan evaluasi komprehensif melibatkan akademisi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
  2. Menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja tanpa menghilangkan esensi akademik.
  3. Mengalokasikan dana untuk pengembangan program studi yang potensial namun belum optimal.

Dengan demikian, kebijakan penutupan program studi harus dihindari bila tidak didukung oleh analisis menyeluruh. Wisnu menutup dengan harapan agar pemerintah dan perguruan tinggi bersama-sama merumuskan strategi yang menyeimbangkan antara relevansi ekonomi dan kebebasan akademik.