Alasan BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI: Di Istana dan DPR Tidak Pernah Didengar Pemerintah
Alasan BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI: Di Istana dan DPR Tidak Pernah Didengar Pemerintah

Alasan BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI: Di Istana dan DPR Tidak Pernah Didengar Pemerintah

Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Baru-baru ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia (Bundaran HI) sebagai respons atas rasa frustrasi mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap mengabaikan aspirasi mereka. Aksi tersebut dilakukan pada hari Jumat dan melibatkan ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas.

  • Kurangnya dialog terbuka: Mahasiswa mengklaim bahwa setiap kali mereka mengajukan surat atau permohonan pertemuan dengan pihak eksekutif, tidak ada respons yang memadai.
  • Penolakan terhadap kebijakan pendidikan: Beberapa kebijakan terbaru, seperti revisi kurikulum dan pemotongan dana beasiswa, dianggap merugikan mahasiswa.
  • Transparansi anggaran: BEM UI menuntut agar alokasi anggaran kampus dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

Selain itu, BEM UI menambahkan bahwa mereka telah berulang kali mengirimkan surat resmi ke Istana dan DPR, namun tidak pernah mendapatkan balasan. Hal ini memicu keputusan untuk membawa tuntutan mereka ke ruang publik, sehingga masyarakat luas dapat menyaksikan dan menilai kebijakan yang sedang berjalan.

Reaksi pemerintah masih belum resmi, namun beberapa pejabat terkait menyatakan bahwa mereka terbuka untuk dialog asalkan aksi berjalan damai dan tidak mengganggu ketertiban umum. Pihak kepolisian pun menyiapkan pengamanan di sekitar Bundaran HI untuk memastikan aksi tidak berujung pada kerusuhan.

Para pengamat politik menilai bahwa aksi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara generasi muda dan pemerintah, terutama dalam hal partisipasi politik dan kebijakan publik. Mereka mengingatkan bahwa dialog konstruktif tetap menjadi jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan.

Aksi di Bundaran HI diperkirakan akan menjadi titik balik bagi hubungan antara mahasiswa dan institusi negara, sekaligus menjadi pengingat bahwa aspirasi warga, khususnya generasi muda, harus didengar secara serius.