Frankenstein45.Com – 11 Mei 2026 | Los Angeles, 11 Mei 2026 – Aktris berusia 43 tahun Anne Hathaway memasuki tahun paling produktif dalam kariernya, menandai dua proyek film yang sangat kontras sekaligus menegaskan versatilitasnya di layar lebar.
Film pertama, Mother Mary, merupakan drama psikologis‑thriller bergaya gothic yang diproduksi oleh A24 dan ditulis serta disutradarai oleh David Lowery. Di dalamnya Hathaway memerankan seorang bintang pop internasional yang tengah menyiapkan comeback tour setelah mengalami kecelakaan panggung yang menggemparkan. Karakter “Mother Mary” terinspirasi kuat oleh penyanyi Taylor Swift; Hathaway bahkan menonton dokumenter Miss Americana dan konser Reputation Stadium Tour untuk menangkap esensi kerentanan sang artis.
Untuk mempersiapkan peran tersebut, Hathaway menjalani pelatihan vokal intensif bersama penulis lagu Jack Antonoff dan Charli XCX, serta berlatih tari dengan koreografer Dani Vitale yang pernah bekerja dengan Rihanna dan Katy Perry. Ia juga melatih suaranya bersama guru vokal Jamie Leonhart. Hasilnya, Hathaway menyanyikan tujuh lagu original di film, termasuk “Burial” yang ia tulis bersama Antonoff dan Charli XCX, serta “My Mouth Is Lonely For You” yang diciptakan oleh FKA twigs yang juga muncul dalam film.
Resepsi dan Performanya
Film ini pertama kali ditayangkan pada 24 April 2026 dengan penayangan terbatas, kemudian resmi rilis di bioskop Singapura pada 14 Mei. Meskipun Hathaway memiliki reputasi tinggi, Mother Mary belum mencapai popularitas massal yang diharapkan; pendapatan global diperkirakan sekitar $2,3 juta dan skor Rotten Tomatoes berada di 71 %. Kritikus menilai film ini “konseptual” dan “penuh simbolisme,” serta menyoroti dialog panjang antara Hathaway dan Michaela Coel yang memerankan mantan perancang kostum Sam Anselm. Penonton yang terbiasa dengan film aksi atau komedi mungkin akan merasa kebingungan, namun penggemar seni avant‑garde mengapresiasi keberanian sutradara dalam mengeksplorasi trauma melalui sosok hantu merah yang berulang.
Dalam wawancara NPR, Hathaway menggambarkan dinamika karakternya dengan Coel sebagai “medan magnet,” menunjukkan tarik‑uluran emosional yang terus berubah sepanjang cerita. Ia menambahkan, “Saya merasa sangat rentan melakukan semua ini, jadi saya butuh dukungan lebih dari yang saya sangka.”
Jalan Cerita di ‘The Princess Diaries 3’
Sementara Mother Mary menantang kemampuan akting dan musikalitas Hathaway, proyek berikutnya menampilkan sisi yang lebih ringan namun sama pentingnya: kembalinya peran Mia Thermopolis dalam The Princess Diaries 3. Sutradara Adele Lim mengungkapkan bahwa film ketiga ini sedang dalam tahap pengembangan, dengan jadwal syuting masih direncanakan. Kali ini, cerita tidak lagi berfokus pada remaja mencari jati diri, melainkan pada seorang ratu dewasa yang telah memegang kekuasaan penuh di kerajaan fiksi Genovia.
Lim menekankan bahwa banyak penonton pertama film kini telah menjadi orang tua, termasuk dirinya sendiri, sehingga tema kepemimpinan dan tanggung jawab menjadi lebih relevan. “Kami ingin menampilkan seorang perempuan dalam kekuatan penuhnya, sesuatu yang jarang terlihat di film fantasi kerajaan,” ujar Lim.
Produksi akan difilmkan di Eropa untuk menampilkan kemegahan Genovia, dan Lim menjanjikan kemunculan kembali karakter‑karakter ikonik dari dua film sebelumnya. Sementara detail plot masih dirahasiakan, rumor menyebutkan bahwa elemen komedi dan romansa akan tetap dipertahankan, dengan kemungkinan penampilan cameo dari aktor‑aktor lama.
Agenda Padat Hathaway di 2026
Selain Mother Mary dan The Princess Diaries 3, Hathaway juga dijadwalkan tampil dalam film epik fantasi Christopher Nolan, The Odyssey, yang akan tayang pada Juli, serta drama fiksi ilmiah The End Of Oak Street (Agustus) dan thriller psikologis Verity (Oktober). Jadwal yang padat ini menegaskan posisi Hathaway sebagai bintang yang tidak hanya berperan sebagai aktris, tetapi juga sebagai penampil musik dan produser kreatif.
Di luar layar, Hathaway hidup bersama suami, produser Adam Shulman, dan dua putra berusia enam dan sepuluh tahun. Ia menyatakan bahwa menjadi ibu memberikan perspektif baru dalam memilih peran, terutama yang menampilkan kekuatan perempuan dalam berbagai dimensi.
Dengan beragam genre yang ia jajaki—dari gothic musical hingga komedi kerajaan—Anne Hathaway tampaknya menegaskan komitmennya untuk mengeksplorasi batasan akting sekaligus menyuguhkan karya yang dapat dinikmati penonton dari berbagai kalangan. Bagaimana respons publik terhadap dua film tersebut akan menjadi indikator penting apakah strategi diversifikasi peran ini berhasil mengukuhkan Hathaway sebagai ikon Hollywood yang terus berinovasi.







