Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, guru besar antropologi Universitas Indonesia, menyoroti perubahan signifikan dalam cara kaum muda mendefinisikan dan mengukur kenyamanan di era digital. Menurutnya, kenyamanan tidak lagi hanya dipandang dari aspek fisik semata, melainkan juga melibatkan dimensi psikologis dan sosial yang dipengaruhi oleh teknologi.
Dalam observasinya, Semiarto mencatat bahwa generasi milenial dan Gen Z semakin mengandalkan platform daring untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari hiburan, belanja, hingga interaksi sosial. Hal ini menciptakan standar baru dalam hal ruang pribadi, waktu luang, dan interaksi antarpribadi.
Beberapa temuan utama yang diungkapkan antara lain:
- Ruang pribadi yang fleksibel: Kaum muda kini lebih menerima konsep coworking space, kafe, atau bahkan ruang virtual sebagai tempat nyaman untuk bekerja atau bersosialisasi.
- Waktu luang yang terfragmentasi: Konsumsi konten singkat di media sosial menyebabkan pola istirahat dan hiburan menjadi terpecah-pecah, sehingga persepsi tentang “waktu santai” berubah menjadi lebih singkat namun lebih sering.
- Interaksi berbasis digital: Penggunaan aplikasi pesan instan dan video call menjadi norma, menggeser nilai tradisional tentang pertemuan tatap muka.
Observasi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial. Semiarto menekankan pentingnya keseimbangan antara kemudahan digital dengan praktik kehidupan nyata, agar generasi muda tidak kehilangan keterampilan sosial yang esensial.
Ia menyarankan agar institusi pendidikan, organisasi non‑profit, dan pemerintah memperhatikan dinamika ini dalam merancang program yang dapat menyeimbangkan kebutuhan digital dan kesejahteraan psikologis kaum muda.




