Frankenstein45.Com – 01 April 2026 | Setelah berakhirnya masa pembatasan angkutan barang pada 29 Maret 2026, pelabuhan lintas selat paling sibuk di Indonesia, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, kembali dipadati truk‑logistik yang berbondong‑bondong menuju Pulau Bali. Pada Selasa (31/3/2026) antrean kendaraan yang berawal dari arah utara menembus panjang 12 kilometer, menandakan lonjakan signifikan dalam arus balik pasca Hari Raya Idul Fitri.
Wakil Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Yossianis Marciano, menjelaskan bahwa dinamika ini merupakan konsekuensi alami dari berakhirnya kebijakan pembatasan truk sumbu tiga ke atas. “Pasca pembatasan, volume truk meningkat drastis, namun kami tetap mengendalikan situasi melalui penyesuaian operasional,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Skema Tiba‑Bongkar‑Berangkat (TBB) Jadi Penopang Layanan
Untuk mengatasi kepadatan, ASDP menerapkan skema Tiba‑Bongkar‑Berangkat (TBB) di pelabuhan-pelabuhan utama, termasuk Gilimanuk dan Ketapang. Skema ini memaksa kapal tidak berlama‑lama di dermaga, sehingga proses bongkar muat dapat diselesaikan dalam rata‑rata 35 menit per siklus. Di Pelabuhan Gilimanuk, kebijakan serupa menyebabkan antrean kendaraan logistik mengular hingga 8 kilometer pada H+9 Lebaran, menandakan upaya meningkatkan rotasi kapal yang sebelumnya terhambat oleh arus balik di Ketapang.
Di Ketapang, ASDP mengoperasikan total 36 kapal, dengan 10 kapal mengadopsi pola TBB di Dermaga 4. Selain itu, enam kapal perbantuan—Portlink VII, Liputan XII, Dharma Kencana IX, Dharma Rucitra, Karya Maritim II, dan Perkasa Prima V—dikerahkan untuk menambah kapasitas layanan. Penambahan armada ini diharapkan menurunkan waktu tunggu dan mempercepat pergerakan kendaraan.
Data Antrean dan Volume Penumpang
Menurut data Posko Ketapang, pada pukul 14.00 WIB antrean mencapai sekitar 5,8 km, dan pada pukul 15.00 WIB panjangnya telah meluas menjadi ±12 km. Pada pukul 18.30 WIB, aplikasi navigasi Google Maps melaporkan kondisi lalu lintas merah pada jalur Jl. Situbondo‑Banyuwangi selama 13 km. Sekitar 380 kendaraan, mayoritas truk besar, berada di zona penyangga (buffer zone) Bulusan pada pagi hari Selasa, dengan angka tersebut terus bertambah.
Selama 24 jam pada 30 Maret 2026 (H+8), tercatat total 56.197 penumpang menyeberang dari Jawa ke Bali, meningkat 5,2 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jumlah kendaraan mencapai 17.608 unit, naik 2,1 %. Dari total reservasi 183.810 unit di platform digital Ferizy, sebanyak 171.921 unit telah dilayani, sementara perkiraan kendaraan yang masih akan menyeberang hingga H+10 diperkirakan sekitar 11.889 unit.
Komposisi Kendaraan dan Dampaknya
- Truk logistik menjadi mayoritas, diikuti oleh bus dan kendaraan pribadi.
- Truk logistik menempati lebih dari separuh antrean, memicu perlunya buffer zone khusus sebelum masuk dermaga.
- Waktu pergerakan kendaraan di area masuk dermaga tercatat 15‑30 menit pada pukul 12.45 WIB.
Meski antrean terlihat mengganggu, ASDP menegaskan bahwa alur tetap terjaga. “Antrean boleh terjadi, tetapi tidak boleh berhenti,” tegas Yossianis. Dengan penambahan trip, optimalisasi TBB, dan pengaturan buffer zone, pihak berwenang berharap arus balik dapat kembali normal dalam beberapa hari ke depan.
Pengalaman di Pelabuhan Gilimanuk, dimana antrean mencapai 8 km pada H+9 Lebaran, menjadi pelajaran penting bagi Ketapang. Di Gilimanuk, peningkatan kapal yang beroperasi dari 28 menjadi 34 unit, serta 22 kapal yang menerapkan TBB, berhasil mempercepat rotasi kapal dan menurunkan waktu tunggu, meski mengakibatkan antrean sementara di pelabuhan tersebut.
Dengan koordinasi intens antara ASDP, regulator, dan operator kapal, diharapkan kelancaran lintas selat tetap terjaga, sekaligus mengurangi beban logistik pada sektor transportasi nasional. Antrean panjang kini menjadi indikator tingginya mobilitas masyarakat pasca Lebaran, sekaligus tantangan operasional yang harus dihadapi oleh otoritas pelabuhan.




