AS dan Iran Berunding di Doha: Aset Rp107,8 Triliun Menanti Pencairan
AS dan Iran Berunding di Doha: Aset Rp107,8 Triliun Menanti Pencairan

AS dan Iran Berunding di Doha: Aset Rp107,8 Triliun Menanti Pencairan

Frankenstein45.Com – 03 Juli 2026 | Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Doha, Qatar, pada Rabu (1/7/2026), Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali melanjutkan pembicaraan tidak langsung mengenai nasib aset Iran yang dibekukan senilai 6 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp107,8 triliun. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada 17 Juni 2026.

Pertemuan yang dimediasi oleh Qatar dan Pakistan ini tidak melibatkan kontak langsung antara delegasi AS dan Iran. Sebaliknya, kedua belah pihak mengadakan diskusi terpisah dengan mediator untuk membahas berbagai isu, termasuk pencairan aset, gencatan senjata, dan masalah nuklir.

Baca juga:

Agenda Utama Pertemuan

Agenda utama yang dibahas dalam pertemuan ini meliputi:

  • Pencairan aset Iran yang dibekukan di Qatar, yang berjumlah 12 miliar dolar AS.
  • Perpanjangan gencatan senjata dan penghentian operasi militer di seluruh front, termasuk Lebanon.
  • Pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.
  • Persiapan untuk pembicaraan lebih lanjut mengenai isu nuklir dan pencabutan sanksi ekonomi.

Wakil AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah berada di Qatar sejak Selasa (30/6/2026) untuk membahas stabilitas kawasan. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menegaskan bahwa tidak ada pertemuan langsung yang dijadwalkan antara kedua pihak dalam waktu dekat. Pembicaraan tetap berlangsung di tingkat teknis dengan harapan dapat meningkatkan komunikasi ke tingkat yang lebih senior.

Kemajuan dalam Negosiasi

Iran sangat menantikan kemajuan konkret dalam pencairan aset yang dibekukan. Menurut Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pihaknya bersiap untuk bertemu mediator di Doha untuk membahas pelaksanaan MoU, terutama mengenai pencairan aset. Iran berharap untuk menggunakan sebagian dari dana yang dibebaskan untuk kebutuhan domestik.

Dalam pertemuan sebelumnya di Swiss, kedua negara telah mencatat beberapa kemajuan terkait upaya memastikan rute aman bagi kapal komersial, meskipun situasi kembali memanas setelah Iran melakukan serangan terhadap kapal kargo yang melintasi perairan Oman.

Baca juga:

Persepsi dan Tantangan

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan optimisme bahwa dana sebesar 6 miliar dolar AS tersebut akan segera dicairkan. Ia menyebut MoU sebagai ‘kemenangan besar bagi rakyat Iran’. Namun, meskipun ada sinyal positif, proses pencairan masih bergantung pada kemajuan substansial dalam perundingan yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, AS tetap berhati-hati. Presiden AS, Donald Trump, menekankan bahwa dana yang dicairkan akan digunakan untuk membeli komoditas dari petani AS, dan tidak akan langsung diterima oleh Teheran. Hal ini menimbulkan ketegangan, dengan negosiator Iran menolak klaim tersebut dan menyebutnya tidak akurat.

Dampak terhadap Pasar Energi

Harga minyak dunia juga terpengaruh oleh perkembangan dialog ini, dengan penurunan sekitar 2 persen akibat optimisme pasar terhadap kemungkinan penyelesaian konflik yang berkepanjangan antara kedua negara. Meski lalu lintas di Selat Hormuz mulai pulih, status kawasan tersebut masih penuh ketidakpastian.

Pertemuan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan dalam perundingan, tantangan besar masih tetap ada. Kedua belah pihak kini harus bekerja keras untuk mencapai kesepakatan akhir yang akan membawa stabilitas tidak hanya bagi kawasan, tetapi juga bagi pasar energi global.

Baca juga: