Frankenstein45.Com – 11 Juni 2026 | Bahasa Wabo, bahasa daerah yang dipakai di Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, kini berada di ambang kepunahan. Penelitian lapangan menunjukkan bahwa hanya generasi yang berusia antara 50 hingga 70 tahun yang masih fasih menggunakannya, sementara generasi muda hampir tidak mengetahui keberadaannya.
Keadaan ini mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat langkah-langkah dokumentasi dan standardisasi bahasa. Tim peneliti BRIN, yang dipimpin oleh ahli linguistik nasional, melakukan pencatatan kosakata, tata bahasa, serta pola penggunaan dalam konteks sosial budaya setempat.
Beberapa tahapan utama yang sedang dijalankan meliputi:
- Pengumpulan data leksikal melalui wawancara dengan penutur asli.
- Penyusunan deskripsi tata bahasa yang mencakup morfologi, sintaksis, dan fonologi.
- Pembuatan kamus digital yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
- Pelatihan guru lokal agar dapat mengajarkan bahasa Wabo di sekolah dasar.
Data awal menunjukkan bahwa dalam tiga desa utama di Yapen, jumlah penutur aktif bahasa Wabo menurun dari sekitar 1.200 orang pada tahun 2010 menjadi kurang dari 300 orang pada 2024.
| Tahun | Jumlah Penutur |
|---|---|
| 2010 | 1.200 |
| 2015 | 850 |
| 2020 | 500 |
| 2024 | 280 |
Upaya pelestarian ini tidak hanya bertujuan menjaga keberlangsungan bahasa, tetapi juga melindungi identitas budaya masyarakat Wabo yang terkait erat dengan tradisi lisan, adat, dan pengetahuan lokal. Pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan diharapkan dapat memberikan dukungan tambahan, seperti penyediaan fasilitas rekaman dan penyebaran materi pembelajaran.
Jika langkah-langkah ini berhasil, diharapkan bahasa Wabo dapat kembali dipelajari oleh generasi muda, sekaligus menjadi contoh bagi bahasa-bahasa lain di Papua yang menghadapi ancaman serupa.




