Bandung Spirit Kembali Bergema Lewat Buku Dokumentasi Konferensi Asia Afrika
Bandung Spirit Kembali Bergema Lewat Buku Dokumentasi Konferensi Asia Afrika

Bandung Spirit Kembali Bergema Lewat Buku Dokumentasi Konferensi Asia Afrika

Frankenstein45.Com – 20 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan nasional pada Minggu, 19 April 2024, menyambut peringatan ke-71 Konferensi Asia‑Afrika (KAA). Acara puncak peringatan tersebut adalah peluncuran buku dokumentasi KAA yang mengumpulkan arsip, foto, dan catatan penting dari konferensi bersejarah tahun 1955.

Buku yang berjudul Bandung Spirit: Dokumentasi Konferensi Asia‑Afrika disusun oleh tim peneliti dan sejarawan dari berbagai institusi, termasuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Universitas Padjadjaran. Buku ini memuat 350 halaman, mencakup kronologi pertemuan, pidato tokoh-tokoh dunia, serta foto-foto bersejarah yang jarang dipublikasikan sebelumnya.

Acara peluncuran dilaksanakan di Gedung Balai Kota Bandung dan dihadiri oleh pejabat pemerintah, akademisi, serta tokoh-tokoh kebudayaan. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat “Bandung Spirit” sebagai landasan kerjasama Selatan‑Selatan dalam menghadapi tantangan global.

  • Sejarah singkat KAA: Diselenggarakan pertama kali pada 18‑24 April 1955, konferensi ini mempertemukan 29 negara Afrika dan Asia yang menuntut kemerdekaan serta kemandirian politik.
  • Tujuan buku dokumentasi: Menyajikan materi asli bagi peneliti, pelajar, dan masyarakat umum; memperkuat identitas sejarah Indonesia dalam konteks global.
  • Fitur utama: Foto-foto arsip berwarna, transkrip pidato lengkap, analisis tematik, dan catatan kaki yang memudahkan pembacaan.

Para penulis buku menegaskan bahwa “Bandung Spirit” bukan sekadar slogan, melainkan semangat persaudaraan, keadilan, dan kebebasan yang harus terus dijaga. Mereka berharap buku ini menjadi referensi utama dalam pendidikan sejarah di tingkat sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Selain peluncuran, rangkaian acara juga meliputi diskusi panel yang membahas relevansi KAA dalam era digital, serta pameran foto-foto jarang terpublikasi yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Presiden Soekarno, Jawaharlal Nehru, dan Gamal Abdel Nasser.

Dengan buku dokumentasi ini, harapan masyarakat Bandung dan Indonesia secara luas adalah agar nilai-nilai persatuan, toleransi, dan kolaborasi internasional yang tercermin dalam “Bandung Spirit” dapat kembali menginspirasi kebijakan luar negeri dan dinamika sosial‑budaya di masa depan.