Frankenstein45.Com – 15 April 2026 | Intensitas hujan lebat yang melanda Kabupaten Demak pada awal tahun 2025‑2026 memicu banjir bandang yang meluas hingga ke sejumlah kecamatan, termasuk Sayung, Guntur, dan Trimulyo. Kedalaman genangan di beberapa lokasi mencapai 40 sentimeter, menenggelamkan jalan raya utama Demak‑Semarang serta menggenangi fasilitas publik, termasuk sekolah dasar.
Belajar di Bawah Air: Ketabahan Siswa SDN Daleman
Di SDN Daleman, Sayung, para siswa tetap melaksanakan proses belajar mengajar meski lantai kelas terendam air. Guru Edi Santoso menjelaskan bahwa lima ruang kelas dan musala telah terendam, memaksa penggunaan papan kayu sebagai jembatan darurat untuk masuk‑keluar kelas. Meskipun harus belajar dengan sandal atau tanpa alas kaki, semangat belajar tidak luntur. “Kami mengatur posisi meja dan mengurangi beban barang‑barang yang dapat rusak, serta menyiapkan materi pelajaran yang tidak memerlukan peralatan elektronik,” ujar Santoso.
Kerusakan Rumah dan Bantuan Pemerintah
Tak hanya fasilitas pendidikan, dampak banjir juga menghantam hunian warga. Di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, total 28 rumah terdampak, 12 di antaranya hanyut dan 7 mengalami kerusakan berat. Pemerintah Kabupaten Demak menanggapi dengan menyalurkan bantuan pembangunan rumah unggul sistem panel instan (Ruspin) senilai Rp 55 juta per unit. Ruspin berukuran 6 × 6 meter, dibangun dengan sistem panel pra‑fabik yang mempercepat proses konstruksi dibandingkan rumah konvensional.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Dinperkim) Demak, Nanang Tasunar, menjelaskan alokasi dana: Rp 50 juta per unit untuk struktur panel, ditambah tambahan Rp 5 juta dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznaz) untuk fondasi. Bantuan tersebut ditujukan kepada keluarga yang rumahnya hanyut, sementara rumah yang rusak ringan menerima bantuan material perbaikan sesuai kebutuhan. Untuk rumah dengan kerusakan berat, provinsi Jawa Tengah akan menanggung biaya tambahan.
Upaya Normalisasi Sungai Tuntang
Penyebab utama banjir di Demak adalah jebolnya tanggul Sungai Tuntang. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Badan Pengelolaan Sumber Daya Air (BBWS) telah mengusulkan normalisasi sungai sebagai solusi jangka panjang. Program ini mencakup perbaikan tanggul, pembersihan alur sungai, dan penataan kembali lahan dataran banjir. Pada April 2026, pemprov menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat pelaksanaan proyek, mengingat frekuensi banjir yang semakin tinggi.
Dampak Sosial‑Ekonomi
Penutupan Jalan Raya Demak‑Semarang selama beberapa hari mengakibatkan kemacetan panjang, menghambat distribusi barang, serta mempersulit akses layanan darurat. Pedagang pasar tradisional melaporkan penurunan pendapatan hingga 30 % selama periode banjir. Di sisi lain, bantuan rusun dan Ruspin diharapkan dapat menstabilkan kondisi ekonomi keluarga terdampak, sekaligus mendorong pemulihan cepat.
Respon Masyarakat dan Relawan
Warga setempat membentuk kelompok relawan untuk menyalurkan bantuan logistik, seperti makanan, sandang, dan obat‑obatan. Mereka juga membantu menyiapkan lahan sementara bagi korban yang kehilangan tempat tinggal. Upaya gotong‑royong ini memperkuat jaringan sosial dan mempercepat proses pemulihan.
Secara keseluruhan, banjir di Demak menegaskan pentingnya kesiapsiagaan infrastruktur, penanggulangan bencana yang terintegrasi, serta dukungan sosial‑ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah daerah dan pusat terus berkoordinasi untuk mempercepat normalisasi sungai, memperkuat bangunan tahan banjir, dan memperluas program bantuan rumah Ruspin, guna mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana serupa di masa depan.




