Barito Renewables Energy Terpuruk 12%: Tantangan Free Float dan Dampak Geopolitik pada IHSG
Barito Renewables Energy Terpuruk 12%: Tantangan Free Float dan Dampak Geopolitik pada IHSG

Barito Renewables Energy Terpuruk 12%: Tantangan Free Float dan Dampak Geopolitik pada IHSG

Frankenstein45.Com – 09 Mei 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pada Jumat, 8 Mei 2026, dengan penurunan tajam 2,86% menuju level 6.969,39. Penurunan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Selat Hormuz serta kekhawatiran tentang hubungan AS‑China. Di tengah gejolak pasar, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat mengalami penurunan 11,83%, menembus level Rp4.100 per saham, menandai tekanan signifikan pada emiten yang berada di bawah naungan konglomerasi milik Prajogo Pangestu.

Free float BREN masih di bawah ambang batas regulasi

Sejak pengumuman Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai status pemenuhan free float, PT Barito Renewables Energy Tbk masih berada pada tingkat free float 12,3%, di bawah ketentuan minimum 12,5% untuk perusahaan dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun. BEI memberikan tenggat waktu hingga 31 Maret 2027 untuk mencapai free float 12,5%, kemudian harus melampaui 15% pada 31 Maret 2028. Saat ini, BREN memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp702,37 triliun dengan 29.146 pemegang saham, jauh lebih sedikit dibandingkan saudaranya PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang telah memenuhi standar dengan free float 26,7% dan pemegang saham lebih dari 108.000 orang.

Pengaruh regulasi terhadap likuiditas saham

Regulasi free float BEI bertujuan meningkatkan likuiditas dan memperluas basis kepemilikan publik. BREN, bersama emiten lain seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dan PT Petrosea Tbk (PTRO), masih berupaya meningkatkan proporsi saham yang beredar di pasar. TPIA, misalnya, memiliki free float hanya 8,1% dan juga diberikan batas waktu hingga Maret 2027 untuk mencapai 12,5%, kemudian 15% pada 2028. Sementara PTRO dan PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) berada di atas 12,5% namun di bawah 15%, sehingga mereka harus mencapai 15% paling lambat 31 Maret 2027.

Sentimen pasar dan dampak pada BREN

Penurunan IHSG secara umum didorong oleh sentimen negatif terkait konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian kebijakan moneter Indonesia. Data cadangan devisa April yang menurun menambah tekanan pada rupiah, memperburuk performa saham-saham berkapitalisasi besar. Di antara 575 saham yang melemah, BREN mencatat penurunan terbesar kedua setelah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 14,94%. Penurunan tersebut mencerminkan kombinasi antara faktor eksternal (geopolitik, nilai tukar) dan internal (kekhawatiran tentang kemampuan perusahaan memenuhi persyaratan free float).

Langkah strategis yang diharapkan

  • Meningkatkan jumlah pemegang saham melalui program rights issue atau penawaran umum terbatas.
  • Memperkuat tata kelola korporasi untuk menarik investor institusional.
  • Menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan untuk mempercepat proses pembukaan saham.

Jika BREN berhasil memenuhi target free float pada tahun 2027, diharapkan likuiditas saham akan meningkat, yang pada gilirannya dapat menstabilkan harga saham di tengah volatilitas pasar. Namun, pencapaian target tersebut memerlukan upaya signifikan mengingat jumlah pemegang saham saat ini masih terbatas.

Secara keseluruhan, tekanan pada BREN tidak hanya bersifat teknis terkait regulasi, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global. Investor disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan BEI serta faktor eksternal yang dapat memengaruhi nilai tukar dan sentimen pasar secara umum.