Beda Haluan Soal Perang, Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Resmi Mundur, Kabinet Trump Turbulensi
Beda Haluan Soal Perang, Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Resmi Mundur, Kabinet Trump Turbulensi

Beda Haluan Soal Perang, Direktur Intelijen AS Tulsi Gabbard Resmi Mundur, Kabinet Trump Turbulensi

Frankenstein45.Com – 23 Mei 2026 | Jakarta, Republika.co.id — Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat (DNI), Tulsi Gabbard, mengumumkan pengunduran diri resmi dari pemerintahan Presiden Donald Trump pada hari Rabu, menyusul meningkatnya ketegangan internal di dalam kabinet terkait kebijakan perang Iran.

Keputusan Gabbard muncul setelah serangkaian perdebatan sengit antara pejabat senior Gedung Putih tentang apakah Amerika Serikat harus meningkatkan operasi militer di wilayah Timur Tengah atau menahan diri demi menghindari eskalasi konflik yang lebih luas. Gabbard, yang sebelumnya dikenal sebagai anggota Kongres dan mantan anggota militer, mengaku tidak dapat lagi menyelaraskan pandangannya dengan strategi yang diusung oleh tim penasihat pertahanan Trump.

Pengunduran diri Gabbard menambah daftar nama pejabat tinggi yang keluar dari pemerintahan Trump dalam beberapa minggu terakhir, termasuk mantan Menteri Luar Negeri dan beberapa penasihat senior. Situasi ini menimbulkan spekulasi bahwa kabinet Trump berada dalam fase turbulensi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

  • Alasan utama pengunduran diri: perbedaan pandangan tentang kebijakan militer terhadap Iran.
  • Dampak internal: memperlemah koordinasi antara lembaga intelijen dan departemen pertahanan.
  • Reaksi politik: anggota Partai Demokrat menilai keputusan Gabbard sebagai indikasi kerentanan kebijakan luar negeri Trump.
  • Langkah selanjutnya: Presiden Trump diperkirakan akan menunjuk pengganti sementara sambil meninjau kembali strategi militernya.

Para analis menilai bahwa perpecahan ini dapat membuka peluang bagi Iran untuk memperkuat posisinya di kawasan, terutama jika Amerika Serikat memilih kebijakan non-intervensi. Di sisi lain, kelompok hawkish dalam pemerintahan Trump berargumen bahwa tindakan tegas diperlukan untuk mencegah proliferasi senjata nuklir dan melindungi sekutu regional.

Sejumlah sumber dalam lingkaran Pentagon mengkonfirmasi bahwa proses seleksi pengganti Gabbard sedang dipercepat, dengan nama-nama veteran intelijen dan mantan pejabat militer masuk dalam daftar pertimbangan. Sementara itu, para legislator di Kongres menuntut transparansi lebih besar mengenai keputusan kebijakan luar negeri yang dianggap “berisiko tinggi”.

Dalam pernyataannya, Gabbard menekankan komitmennya terhadap keamanan nasional, namun menyatakan bahwa “integritas kebijakan intelijen tidak dapat dipertahankan bila dipaksa menyesuaikan diri dengan agenda politik yang berlawanan dengan kepentingan strategis jangka panjang”.

Pengunduran diri ini menambah catatan panjang tentang dinamika internal pemerintahan Trump, yang sejak awal masa jabatan presidenannya telah ditandai dengan pergantian pejabat tinggi secara berulang-ulang. Pengamat politik memperkirakan bahwa turbulensi ini dapat mempengaruhi popularitas Trump menjelang pemilihan berikutnya, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang kestabilan kebijakan luar negeri Amerika Serikat ke depan.