Beda Nasib Rismon Sianipar dan Roy Suryo: Satu Dapat Sorotan, Satunya Tidur Nyenyak dalam Kasus Ijazah Jokowi
Beda Nasib Rismon Sianipar dan Roy Suryo: Satu Dapat Sorotan, Satunya Tidur Nyenyak dalam Kasus Ijazah Jokowi

Beda Nasib Rismon Sianipar dan Roy Suryo: Satu Dapat Sorotan, Satunya Tidur Nyenyak dalam Kasus Ijazah Jokowi

Frankenstein45.Com – 06 Mei 2026 | Kasus dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo kembali mencuri perhatian publik setelah dua tokoh penting, Rismon Sianipar dan Roy Suryo, menampilkan sikap dan strategi yang sangat berbeda. Di satu sisi, Rismon yang merupakan pakar digital forensik tampak berada di bawah sorotan intens, sementara Roy Suryo, pakar telematika, berhasil menenangkan diri dan bahkan menampilkan bukti yang menambah kerumitan penyelidikan.

Latihan Perang Kata di Arena Televisi

Pertemuan keduanya terjadi dalam program “Rakyat Bersuara” yang disiarkan di iNews TV pada 5 Mei 2026. Roy Suryo, yang juga menjadi tersangka dalam kasus tersebut, memperlihatkan amplop berisi uang yang konon berasal dari hasil penjualan buku “Jokowi’s White Paper” milik Rismon Sianipar. Roy menantang Rismon yang tidak hadir secara fisik, melainkan hanya melalui sambungan Zoom. “Mana? Tampil dong di Zoom, tidak berani datang. Kalau tampil, saya mau tunjukkan, ini uang dari kamu masih ada semua,” ujar Roy dengan nada tajam.

Setelah menunggu, Roy kemudian memperlihatkan beberapa amplop yang ia lemparkan ke arah kamera, menegaskan bahwa uang tersebut masih utuh dan tidak pernah dibukanya. “Saya tidak mau makan uangmu, masih utuh itu,” tegasnya. Aksi tersebut menimbulkan spekulasi bahwa Roy berusaha memposisikan dirinya sebagai pihak yang bersih dan tidak terlibat dalam penyalahgunaan dana, meski keduanya berada dalam satu kasus yang sama.

Temuan Kejanggalan Ijazah Jokowi

Tak lama setelah insiden amplop, Roy kembali menjadi sorotan ketika menampilkan temuan kejanggalan pada barang bukti ijazah yang dipamerkan Rismon. Menurut Roy, emboss pada ijazah menunjukkan tulisan “Universitas Gadhaj Adam” alih-alih “Universitas Gadjah Mada” yang seharusnya. Penemuan ini diumumkan pada 25 April 2026, setelah Roy bersama seorang peneliti yang dijuluki “Topi Merah” memeriksa dokumen tersebut.

Roy menegaskan bahwa perbedaan satu huruf saja dapat menjadi indikator kuat bahwa ijazah tersebut dipalsukan atau dimanipulasi. “Di embosnya itu bukan Universitas Gadjah Mada, tapi Universitas Gadhaj Adam,” katanya di Jakarta Selatan. Penemuan ini menambah tekanan pada Rismon, yang sebelumnya mengklaim memiliki bukti kuat untuk mendukung tuduhan terhadap Presiden.

Strategi Media yang Berbeda

Perbedaan taktik media antara kedua tokoh menjadi sorotan utama. Rismon cenderung menonjolkan diri lewat publikasi buku dan penjualan materi yang mengklaim mengungkap kebenaran mengenai ijazah Jokowi. Ia juga sering mengadakan konferensi pers daring, namun tampaknya kurang responsif ketika diminta hadir secara langsung dalam acara televisi.

Di sisi lain, Roy memanfaatkan platform televisi konvensional dan program talkshow untuk menampilkan bukti secara visual. Dengan memperlihatkan amplop uang serta mengumumkan temuan kejanggalan pada ijazah, Roy berhasil mengendalikan narasi publik. Sikapnya yang tampak tenang dan terkontrol memberi kesan bahwa ia berada di posisi yang lebih aman secara hukum, meski tetap menjadi tersangka.

Implikasi Hukum dan Politik

Para pengamat hukum menilai bahwa perbedaan pendekatan ini dapat memengaruhi proses penyidikan. Rismon yang terus mempublikasikan materi dan menuduh secara terbuka berisiko menambah beban hukum, terutama jika bukti yang ia sajikan terbukti tidak kredibel. Sementara Roy yang menonjolkan transparansi lewat bukti fisik berpotensi mendapatkan perlindungan lebih kuat, karena ia dapat menunjukkan bahwa ia tidak menyalahgunakan dana atau memanipulasi dokumen.

Dalam konteks politik, kasus ini menambah beban pada citra Presiden Jokowi. Meskipun belum ada putusan resmi, publikasi kejanggalan ijazah dan kontroversi seputar buku serta uang amplop menimbulkan keraguan di kalangan warga. Kedua tokoh ini menjadi simbol pertempuran informasi di era digital, di mana fakta dan opini bersaing di ruang publik.

Kesimpulan

Berbeda nasib Rismon Sianipar dan Roy Suryo mencerminkan strategi komunikasi yang berlawanan dalam menghadapi tuduhan serupa. Rismon yang terus menyoroti kasus melalui publikasi dan penjualan buku tampak berada di bawah sorotan intens, sementara Roy yang menampilkan bukti secara visual dan mengendalikan narasi di media tradisional berhasil menenangkan situasi seolah-olah ia ‘tidur nyenyak’ di tengah badai. Kedua pendekatan ini akan terus dipantau oleh aparat penegak hukum dan publik, mengingat dampaknya yang luas terhadap kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.