Frankenstein45.Com – 18 Juni 2026 | JAKARTA – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) secara tegas menyatakan tidak mengenal keberadaan gerakan bernama BEM Bersatu yang belakangan muncul di media sosial. Pihak BEM UI menilai keberadaan kelompok tersebut merupakan upaya untuk memecah belah mahasiswa di tingkat nasional.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (17/6/2026), ketua BEM UI, Raka Pratama, menegaskan bahwa tidak ada afiliasi atau kerja sama antara BEM UI dengan organisasi yang mengklaim diri sebagai BEM Bersatu. “Kami tidak memiliki informasi resmi mengenai pembentukan BEM Bersatu, dan kami menolak segala bentuk upaya yang dapat memecah persatuan mahasiswa,” ujar Raka.
Gerakan BEM Bersatu pertama kali mencuat setelah seorang mantan ketua umum BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Prasetyo, disebut-sebut menjadi tokoh di balik inisiatif tersebut. Namun, pihak BEM UI menilai pernyataan tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya.
- Penolakan resmi BEM UI terhadap BEM Bersatu.
- Penegasan tidak adanya afiliasi atau kerja sama.
- Kekhawatiran akan upaya memecah belah mahasiswa secara nasional.
Beberapa organisasi mahasiswa dari kampus lain, termasuk BEM UGM dan BEM ITS, menyatakan keprihatinan mereka terhadap dinamika ini. Mereka menekankan pentingnya menjaga solidaritas dan menghindari fragmentasi dalam aksi-aksi mahasiswa yang selama ini berfokus pada isu-isu pendidikan, kebebasan akademik, dan reformasi kebijakan.
Para pengamat politik kampus menilai fenomena munculnya organisasi baru yang mengusung nama serupa dengan BEM dapat menjadi taktik untuk mengalihkan fokus atau memanipulasi agenda mahasiswa. “Kita harus kritis terhadap klaim-klaim yang belum terbukti, terutama jika ada motif politik di baliknya,” ujar Dr. Siti Aisyah, dosen Ilmu Politik Universitas Negeri Jakarta.
Sementara itu, pihak BEM UI berjanji akan terus mengawasi perkembangan situasi dan memastikan bahwa setiap gerakan mahasiswa tetap berlandaskan pada prinsip persatuan, demokrasi, dan transparansi. “Kami mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak terjebak dalam provokasi yang dapat mengganggu tujuan utama perjuangan mahasiswa,” tutup Raka.




