Frankenstein45.Com – 14 Juni 2026 | Di kalangan masyarakat Jawa, bulan Muharram yang sering disebut Bulan Suro kerap dikaitkan dengan kepercayaan khusus yang menyebutnya sebagai bulan keramat. Berbagai mitos berkembang, mulai dari larangan melakukan aktivitas tertentu hingga anggapan bahwa bulan ini membawa berkah atau malapetaka.
Sejarah dan asal-usul kepercayaan
Kepercayaan tersebut muncul dari tradisi lokal yang mengaitkan siklus kalender Islam dengan fenomena alam serta praktik keagamaan masyarakat Jawa. Selama berabad-abad, cerita-cerita turun-temurun menambahkan unsur mistik pada bulan pertama Hijriah.
Pandangan Islam terhadap mitos Bulan Suro
Para ulama menegaskan bahwa tidak ada dalil dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang menyebutkan bulan Muharram memiliki sifat khusus yang harus dihindari atau dipuja. Imam Malik, Ibnu Majah, dan koleksi hadis sahih lainnya menekankan bahwa semua bulan dalam kalender Islam bersifat sama, kecuali bulan Ramadan yang memiliki keutamaan puasa.
- Tidak ada larangan melakukan pekerjaan atau aktivitas rutin selama Muharram.
- Doa dan amal baik dapat dilakukan kapan saja, tidak terbatas pada bulan tertentu.
- Pengakuan atas keistimewaan bulan harus didasarkan pada teks agama, bukan tradisi budaya semata.
Penjelasan dari para ahli
Beberapa pakar agama menjelaskan bahwa penambahan unsur “keramat” pada Bulan Suro lebih bersifat kultural. Menurut Dr. H. Abdul Aziz, Lc., “Masyarakat Jawa mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kebiasaan lokal, sehingga muncul praktik yang tidak memiliki dasar syariat.”
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk kembali kepada sumber utama, yakni Al-Qur’an dan Sunnah, dalam menilai keabsahan suatu kepercayaan.
Kesimpulannya, meskipun Bulan Suro memiliki nilai historis dan budaya yang kuat di Jawa, tidak ada dasar dalam ajaran Islam yang menjadikannya bulan keramat. Umat Muslim hendaknya menempatkan fokus pada ibadah yang sesuai dengan syariat tanpa terpengaruh mitos yang tidak memiliki landasan agama.




