Frankenstein45.Com – 29 Mei 2026 | Bandung – Mantan pelatih kepala Persib Bandung, Bojan Hodak, kembali menjadi sorotan publik setelah ia menilai performa timnya yang kurang memuaskan meski berhasil melakukan comeback dramatis melawan Bhayangkara FC pada pekan akhir Liga Indonesia 2026. Kritik tajam tersebut muncul tak lama setelah Hodak mengucapkan selamat tinggal kepada klub yang ia pimpin selama tiga musim penuh gelar.
Latar Belakang Era Bojan Hodak
Sejak mengemban tugas pada Juli 2023, Bojan Hodak berhasil mengubah wajah Persib yang sempat berada di posisi 16 klasemen menjadi tim dominan yang merebut tiga gelar liga berturut‑turut (2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026). Transformasi itu tidak lepas dari pendekatan disiplin, mental juara, serta pola permainan konsisten yang ditanamkan oleh sang pelatih asal Kroasia. Pada musim terakhirnya, Persib harus bertarung sengit melawan kompetitor kuat seperti Borneo FC Samarinda dan Persija Jakarta, namun tetap berhasil mengamankan poin terbanyak dalam tiga tahun terakhir.
Comeback Gila Melawan Bhayangkara FC
Pekan ke‑30 Liga Indonesia 2026 menjadi momen penting ketika Persib menghadapi Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Setelah tertinggal 0‑2 pada babak pertama, tim asuhan Bojan melakukan pergantian taktik yang agresif, menurunkan tiga pemain bertahan dan menambah dua gelandang ofensif. Hasilnya, Persib mencetak tiga gol dalam 15 menit terakhir, menutup laga dengan skor 3‑2. Comeback ini sempat menimbulkan kegembiraan di antara suporter, namun tidak menghilangkan kekecewaan Hodak atas penampilan tim secara keseluruhan.
Kritik Pedas Bojan Hodak
Dalam konferensi pers yang digelar satu hari setelah laga, Bojan menegaskan bahwa comeback melawan Bhayangkara tidak dapat menutupi kekurangan mendasar dalam pertahanan dan konsistensi serangan. Ia menyoroti tiga poin utama:
- Kurangnya konsentrasi defensif: Bojan mencatat bahwa lini belakang terlalu sering kehilangan posisi, memungkinkan Bhayangkara mencetak gol pertama melalui serangan balik cepat.
- Transisi serangan yang lambat: Meskipun berhasil mencetak tiga gol, proses pengalihan bola dari pertahanan ke serangan masih terhambat, menyebabkan peluang emas terbuang.
- Kepemimpinan di lapangan: Bojan menilai kapten tim belum mampu mengarahkan rekan‑rekan setim secara efektif, terutama pada fase tekanan tinggi.
“Kami bisa melakukan comeback, tetapi itu bukan ukuran keberhasilan. Saya menilai tim masih belum memiliki ketahanan mental yang diperlukan untuk menahan tekanan di fase kritis,” ujarnya dengan nada tegas.
Reaksi Publik dan Analisis Pakar
Suporter Persib, yang dikenal dengan sebutan Bobotoh, menyambut kritik tersebut dengan campuran rasa frustasi dan harapan. Sebagian menganggap Bojan terlalu keras setelah memberikan tiga gelar, sementara yang lain mengapresiasi kejujuran sang pelatih sebagai dorongan untuk perbaikan. Di sisi lain, pakar sepakbola menilai bahwa kritik Bojan memang beralasan, mengingat Persib harus menyiapkan tim yang tidak hanya mampu menukar hasil di menit akhir, melainkan juga menampilkan permainan stabil sepanjang 90 menit.
Langkah Selanjutnya Persib Bandung
Setelah masa jabatan Bojan berakhir, manajemen Persib mengumumkan pencarian pelatih pengganti yang mampu melanjutkan warisan mental juara. Fokus utama klub kini adalah memperkuat lini belakang melalui transfer pemain berpengalaman serta mengoptimalkan sistem permainan yang lebih fleksibel. Sementara itu, Bojan menyatakan kesiapan untuk kembali ke kancah internasional, namun ia tetap menaruh harapan agar Persib dapat bangkit kembali dan menorehkan prestasi lebih tinggi di musim berikutnya.
Secara keseluruhan, kritik tajam Bojan Hodak menjadi cermin bagi Persib Bandung untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Comeback melawan Bhayangkara FC memang menunjukkan potensi tim, namun konsistensi dan kedisiplinan masih menjadi tantangan utama yang harus diatasi demi menjaga dominasi di kancah sepakbola Indonesia.




