Frankenstein45.Com – 13 Mei 2026 | Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kesenjangan antara perempuan dan laki‑laki di Indonesia mengalami penurunan signifikan dalam lima tahun terakhir. Analisis meliputi bidang pendidikan, partisipasi kerja, upah, kesehatan, dan representasi politik.
Dalam sektor pendidikan, rasio partisipasi perempuan di tingkat menengah naik dari 84,5 % pada 2018 menjadi 90,2 % pada 2023. Sementara itu, tingkat melek huruf perempuan mencapai 96,8 % pada 2023, menyamai laki‑laki yang berada pada 97,1 %.
Partisipasi angkatan kerja menunjukkan tren serupa. Pada 2018, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan tercatat 52,3 %, naik menjadi 55,7 % pada 2023. Selisih dengan laki‑laki yang berada pada 71,9 % pada 2023 masih cukup lebar, namun gap persentase menurun dari 20,1 poin menjadi 16,2 poin.
| Tahun | Gap Partisipasi Kerja (%) | Gap Upah Rata‑Rata (%) |
|---|---|---|
| 2018 | 20,1 | 18,5 |
| 2020 | 18,4 | 15,9 |
| 2023 | 16,2 | 13,7 |
Upah rata‑rata perempuan juga mengalami perbaikan. Pada 2018, rata‑rata upah perempuan hanya 81,5 % dari upah laki‑laki. Pada 2023, selisih tersebut menyusut menjadi 13,7 %.
Indikator kesehatan menunjukkan perempuan memiliki harapan hidup yang sedikit lebih tinggi (78,4 tahun) dibandingkan laki‑laki (73,9 tahun) pada 2023, menandakan kesetaraan dalam akses layanan kesehatan semakin kuat.
Di bidang politik, proporsi perempuan di DPR meningkat dari 20,5 % pada 2018 menjadi 22,3 % pada 2023, menandai peningkatan partisipasi dalam pembuatan kebijakan.
Secara keseluruhan, tren penurunan kesenjangan gender ini mencerminkan dampak kebijakan pemerintah yang menargetkan pemberdayaan perempuan, seperti program beasiswa khusus, pelatihan keterampilan, dan insentif bagi perusahaan yang mempekerjakan perempuan. Meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan, data BPS mengindikasikan bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju kesetaraan gender yang lebih nyata.




