Bukan Dibuang, Sampah di Pinrang Malah Jadi Sumber Penghasilan Warga
Bukan Dibuang, Sampah di Pinrang Malah Jadi Sumber Penghasilan Warga

Bukan Dibuang, Sampah di Pinrang Malah Jadi Sumber Penghasilan Warga

Frankenstein45.Com – 12 April 2026 | Di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, sampah tidak lagi dianggap hanya beban yang harus dibuang. Masyarakat setempat telah mengubahnya menjadi peluang ekonomi melalui program pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Inisiatif ini diprakarsai oleh Badan Penanggulangan Sampah (PPS) setempat bersama beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan warga yang tergabung dalam kelompok “Sampah Produktif”. Setiap hari mereka mengumpulkan sampah organik dan anorganik dari rumah‑rumah, kemudian memilah, mengolah, dan menjualnya kepada pengepul atau pabrik daur ulang.

Berikut jenis sampah yang paling banyak diproses:

  • Sampah plastik (botol PET, kantong HDPE)
  • Sampah kertas dan kardus
  • Sampah logam (kaleng aluminium, besi tua)
  • Sampah organik (sisa sayur, buah, limbah dapur)

Proses pengolahan meliputi tiga tahap utama: pemilahan, pembersihan, dan pengemasan. Hasil akhir dijual dengan harga pasar yang cukup stabil, sehingga pendapatan tambahan dapat dirasakan oleh anggota kelompok.

Data dari PPS menunjukkan peningkatan signifikan dalam tiga bulan pertama program:

Bulan Volume Sampah (ton) Pendapatan (juta Rupiah)
Juli 12,5 45
Agustus 14,3 52
September 16,0 60

Dengan rata‑rata pendapatan sekitar 52 juta Rupiah per bulan, masing‑masing anggota kelompok yang berjumlah sekitar 40 orang memperoleh tambahan penghasilan antara 300.000 hingga 800.000 Rupiah per orang.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah, yang menyediakan fasilitas balai pengolahan, pelatihan teknik daur ulang, serta akses permodalan mikro bagi warga yang ingin memperluas usaha. Selain meningkatkan kesejahteraan, inisiatif ini juga mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Pinrang secara signifikan.

Para warga mengaku merasa lebih bangga karena sampah yang dulunya dianggap sampah kini menjadi aset yang dapat diperdagangkan. “Kami tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menambah penghasilan keluarga,” ujar Ibu Siti Nurhaliza, salah satu anggota kelompok.

Model “Sampah Produktif” ini kini menjadi contoh bagi daerah lain di Sulawesi Selatan untuk mengintegrasikan pengelolaan lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi lokal.