Frankenstein45.Com – 26 April 2026 | Jakarta, 25 April 2026 – Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan perubahan signifikan pada indeks-indeks utama pasar modal, termasuk IDX30, IDX80, dan LQ45. Langkah strategis ini mencakup penghapusan 18 emiten dari daftar indeks serta penambahan beberapa saham yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan tinggi, di antaranya Sritex (SRIL) dan TELE.
Rincian Reshuffle Indeks
Reshuffle yang diumumkan pada Senin (24/04/2026) mencakup tiga indeks utama:
- IDX30: Menyisihkan 12 emiten yang performanya menurun selama tiga kuartal terakhir.
- IDX80: Mengeluarkan 5 emiten dengan likuiditas di bawah standar pasar.
- LQ45: Menambahkan dua saham baru yang menunjukkan kapitalisasi pasar dan likuiditas kuat.
Secara keseluruhan, 18 perusahaan resmi dihapus dari indeks. Penghapusan ini tidak serta-merta berarti delisting dari bursa, namun menandakan bahwa saham-saham tersebut tidak lagi memenuhi kriteria indeks yang ditetapkan, seperti likuiditas harian, kapitalisasi pasar, dan konsistensi kinerja.
Sritex (SRIL) dan TELE Masuk Daftar Baru
Salah satu sorotan utama dalam reshuffle adalah masuknya Sritex (SRIL) ke dalam IDX30. Sritex, perusahaan tekstil terkemuka yang telah mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 12% YoY pada kuartal terakhir, dipilih karena kapitalisasi pasar yang terus naik dan volume perdagangan yang stabil.
Selain Sritex, saham TELE – perusahaan telekomunikasi yang baru saja meluncurkan layanan 5G di beberapa kota besar – juga berhasil masuk ke dalam IDX30. Kenaikan nilai pasar TELE mencapai 18% dalam enam bulan terakhir, didorong oleh peningkatan penjualan paket data dan kerjasama strategis dengan penyedia konten digital.
Dampak Terhadap Investor
Perubahan indeks biasanya memicu aliran dana institusional. Dana indeks yang melacak IDX30, IDX80, atau LQ45 otomatis harus menyesuaikan portofolio mereka sesuai dengan komposisi baru. Hal ini dapat menimbulkan tekanan jual pada saham yang dikeluarkan serta tekanan beli pada saham yang ditambahkan.
Para analis pasar menilai bahwa penambahan Sritex dan TELE akan meningkatkan diversifikasi sektor dalam IDX30, mengurangi ketergantungan pada sektor keuangan dan energi yang selama ini mendominasi indeks.
Proses Delisting dan Kriteria Penilaian
BEI menggunakan serangkaian kriteria kuantitatif dan kualitatif untuk menilai kelayakan emiten dalam indeks:
- Kapitalisasi pasar minimal Rp 2 triliun untuk IDX30, Rp 500 miliar untuk IDX80.
- Rata-rata likuiditas harian minimal 500.000 lembar saham.
- Performa harga saham selama enam bulan terakhir, dengan pertumbuhan positif minimal 5%.
- Konsistensi laporan keuangan dan kepatuhan terhadap peraturan BEI.
Emitenn yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria tersebut akan masuk ke dalam daftar peninjauan, dan jika tidak ada perbaikan dalam tiga bulan, mereka akan dikeluarkan dari indeks.
Reaksi Pasar dan Proyeksi Kedepan
Setelah pengumuman reshuffle, IDX30 mengalami kenaikan 0,7% pada sesi perdagangan pertama, didorong oleh lonjakan harga saham Sritex dan TELE. Di sisi lain, beberapa emiten yang dikeluarkan, seperti PT XYZ Tbk dan PT ABC Tbk, mencatat penurunan nilai saham sekitar 3-4%.
Pengamat pasar memperkirakan bahwa penyesuaian indeks akan membawa aliran dana baru ke sektor-sektor yang masih kurang terwakili, seperti teknologi, manufaktur berkelanjutan, dan layanan digital. Dalam jangka menengah, indeks yang lebih seimbang dapat meningkatkan kepercayaan investor domestik dan asing, sekaligus memperkuat likuiditas pasar modal Indonesia.
BEI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan evaluasi berkala terhadap komposisi indeks, guna memastikan bahwa indeks-indeks utama mencerminkan dinamika ekonomi nasional dan memberikan acuan yang relevan bagi para pelaku pasar.
Dengan langkah ini, diharapkan pasar modal Indonesia akan semakin kompetitif, transparan, dan menarik bagi investasi jangka panjang.




