Frankenstein45.Com – 08 Mei 2026 | Pada pertemuan halal bihalal Ikatan Alumni Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) yang digelar pada 19 April 2026, dua tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU), yakni Cak Imin (Muhaimin Iskandar) dan Kiai Nusron, menyampaikan pandangan kritis mengenai tantangan yang dihadapi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia menjelang Muktamar ke-35. Diskusi yang berlangsung dalam suasana hangat ini tidak hanya menyoroti kegagalan kepemimpinan saat ini, tetapi juga mengajukan rekomendasi strategis yang diharapkan dapat memperkuat persatuan jam’iyyah.
Kritik Tajam Cak Imin Terhadap Kepemimpinan PBNU
Dalam sesi terbuka, Cak Imin menegaskan bahwa Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf, telah gagal menjalankan mandatnya. Ia menuturkan, “Rezim hari ini sudah tidak boleh diteruskan, karena tidak mampu lagi menyalurkan harapan umat. Kami tidak menemukan kepemimpinan yang mampu menyatukan beragam elemen NU.” Pernyataan tersebut menimbulkan gelombang reaksi di kalangan pengurus PBNU, termasuk Sekjen PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang menyatakan tidak ingin membantah, namun menekankan pentingnya kritik konstruktif untuk perbaikan internal.
Respon Gus Ipul: Membuka Ruang Kritik
Gus Ipul menjelaskan bahwa kritik yang disampaikan oleh Cak Imin merupakan bagian dari proses demokratis internal NU. “Setiap warga NU berhak menyuarakan pendapatnya. Kami akan menjadikan masukan ini sebagai bahan evaluasi menjelang Muktamar ke-35,” ujarnya dalam konferensi pers. Ia menambahkan bahwa para pimpinan PBNU harus lebih mendengarkan aspirasi beragam kalangan, terutama aktivis muda yang semakin vokal di arena publik.
Rekomendasi Kiai Se-Jatim dari Forum Halalbihalal Ponpes Lirboyo
Sebagai latar belakang, forum halal bihalal yang diselenggarakan oleh Rois Syuriyah PCNU se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, menghasilkan lima rekomendasi penting untuk PBNU. Salah satu poin utama adalah usulan agar Muktamar ke-35 dilaksanakan di pesantren, dengan Ponpes Lirboyo menjadi kandidat utama. Rekomendasi ini mencerminkan keinginan untuk menumbuhkan nuansa keagamaan yang lebih kuat dalam proses pengambilan keputusan organisasi.
Nusron Menggugah Kesadaran akan Tantangan Masa Depan
Kiai Nusron, yang hadir dalam acara halal bihalal IKA PMII, menambahkan perspektif yang lebih luas mengenai tantangan NU ke depan. Ia menyoroti tiga isu krusial: pertama, perlunya revitalisasi struktural agar jaringan pesantren dapat berperan lebih aktif dalam kebijakan nasional; kedua, pentingnya penataan kembali sistem pendidikan agama agar selaras dengan dinamika sosial‑ekonomi modern; dan ketiga, penegakan disiplin internal untuk menghindari fragmentasi internal yang dapat melemahkan posisi NU di panggung publik.
Nusron juga menekankan bahwa keberhasilan Muktamar ke-35 sangat bergantung pada sinergi antara pimpinan pusat, cabang, dan basis pesantren. “Jika pesantren menjadi tuan rumah, mereka tidak hanya menyediakan tempat, tetapi juga menjadi katalisator pemikiran progresif yang dapat menggerakkan perubahan nyata,” ujarnya.
Harapan Aktivis dan Mahasiswa NU
Suasana di IKA PMII mencerminkan keinginan kuat kalangan mahasiswa dan alumni untuk berperan lebih aktif. Cak Imin mengaku merasa terpaksa menjadi suara yang mengkritik karena “tidak ada yang berani berbicara.” Ia mengajak lebih banyak aktivis NU untuk mengemukakan pendapat, memperkuat budaya dialog terbuka. Hal ini sejalan dengan harapan Gus Ipul yang menekankan pentingnya inklusivitas dalam proses evaluasi kepemimpinan.
Langkah Konkret Menuju Muktamar ke-35
- Penetapan Ponpes Lirboyo sebagai lokasi utama Muktamar, dengan fasilitas logistik yang memadai.
- Pembentukan tim kerja lintas wilayah yang melibatkan Rois Syuriyah PCNU, mahasiswa IKA PMII, dan tokoh pesantren.
- Penguatan mekanisme umpan balik melalui forum daring dan tatap muka secara periodik.
- Penyusunan agenda Muktamar yang menitikberatkan pada reformasi struktural, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan NU dapat mengatasi tantangan internal dan eksternal, serta menegaskan peranannya sebagai kekuatan moral dan sosial di Indonesia.
Secara keseluruhan, pertemuan halal bihalal IKA PMII menjadi momentum penting di mana kritik, saran, dan aspirasi dari berbagai lapisan NU disatukan. Kritik tajam Cak Imin, dukungan Gus Ipul atas kebebasan berpendapat, rekomendasi Kiai Se‑Jatim, dan visi progresif Nusron membentuk fondasi bagi transformasi organisasi. Jika sinergi ini dapat terjaga, Muktamar ke-35 berpotensi menjadi titik balik yang meneguhkan persatuan jam’iyyah, memperkuat legitimasi PBNU, dan menyiapkan NU menghadapi tantangan masa depan dengan lebih siap dan berdaya.




