Cathlyn Yvaine Lesmana Gagal ke Istana Padahal Masuk 3 Besar, Wali Kota Makassar Pertanyakan Seleksi Paskibraka Sulsel
Cathlyn Yvaine Lesmana Gagal ke Istana Padahal Masuk 3 Besar, Wali Kota Makassar Pertanyakan Seleksi Paskibraka Sulsel

Cathlyn Yvaine Lesmana Gagal ke Istana Padahal Masuk 3 Besar, Wali Kota Makassar Pertanyakan Seleksi Paskibraka Sulsel

Frankenstein45.Com – 26 Mei 2026 | Wali Kota Makassar, Ahmad Fauzi, menyuarakan keprihatinan atas proses seleksi Paskibraka Sulawesi Selatan setelah seorang peserta bernama Cathlyn Yvaine Lesmana berhasil menembus tiga besar namun tidak diundang ke Istana Negara untuk penyerahan bendera. Menurut Fauzi, ketidakcocokan antara prestasi di tingkat provinsi dengan hasil seleksi nasional menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi dan keadilan mekanisme seleksi.

Cathlyn, siswa SMA yang dikenal aktif dalam kegiatan kepramukaan, berhasil menempati posisi ketiga pada kompetisi Paskibraka Sulsel. Prestasinya seharusnya menjadikannya kandidat kuat untuk mewakili provinsi di upacara pengibaran bendera di Istana. Namun, pada saat penyerahan nama peserta ke panitia nasional, nama Cathlyn tidak muncul.

Wali Kota Makassar menilai proses seleksi belum cukup terbuka bagi publik. Ia menuntut adanya klarifikasi resmi dari Komisi Paskibraka Nasional (KPN) terkait kriteria penilaian yang digunakan, serta prosedur verifikasi dokumen peserta yang dianggap kurang konsisten.

Berikut beberapa poin utama yang disorot oleh Wali Kota:

  • Keberadaan tiga besar di tingkat provinsi tidak otomatis menjamin tempat di tingkat nasional.
  • Kurangnya publikasi kriteria penilaian yang dapat diakses oleh peserta dan publik.
  • Prosedur verifikasi dokumen dan persyaratan tambahan yang belum dijelaskan secara rinci.
  • Potensi bias atau intervensi internal dalam proses seleksi.

Fauzi menekankan bahwa Paskibraka merupakan simbol kebanggaan nasional, sehingga proses seleksinya harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan prosedural. Ia mengajak pihak terkait untuk segera memberikan penjelasan tertulis, serta melakukan evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

Sementara itu, pihak Komisi Paskibraka Nasional belum memberikan komentar resmi mengenai kasus ini. Masyarakat dan kalangan pendidikan menanti klarifikasi yang dapat menjelaskan mengapa seorang peserta yang berhasil menembus tiga besar di provinsi tidak melanjutkan ke panggung nasional.