Frankenstein45.Com – 12 Juni 2026 | Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), Galau Muhammad, menekankan bahwa penguatan cadangan penyangga kedelai menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor. Menurutnya, kedelai merupakan komoditas penting dalam rantai pangan nasional, terutama sebagai bahan baku pembuatan tempe, tahu, dan minyak kedelai.
Data terbaru menunjukkan bahwa Indonesia masih mengimpor lebih dari 80% kebutuhan kedelai domestik. Pada tahun 2023, volume impor kedelai mencapai sekitar 2,3 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya menyumbang sekitar 400 ribu ton. Kesenjangan ini memperburuk neraca perdagangan dan meningkatkan kerentanan harga pangan.
Penguatan cadangan penyangga kedelai diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat, antara lain:
- Menyediakan pasokan stabil pada musim panen domestik yang masih terbatas.
- Menjaga kestabilan harga kedelai di pasar domestik.
- Mengurangi beban devisa akibat impor berlebih.
- Meningkatkan ketahanan pangan nasional.
Berikut adalah rangkuman data impor dan produksi kedelai Indonesia dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Impor (ton) | Produksi Domestik (ton) |
|---|---|---|
| 2021 | 2,1 juta | 380 ribu |
| 2022 | 2,4 juta | 410 ribu |
| 2023 | 2,3 juta | 400 ribu |
Celios merekomendasikan beberapa langkah kebijakan untuk memperkuat cadangan kedelai:
- Penetapan target cadangan penyangga sebesar 10% dari total konsumsi tahunan kedelai.
- Peningkatan insentif bagi petani untuk menanam kedelai, termasuk subsidi bibit unggul dan pelatihan agronomi.
- Pembangunan fasilitas penyimpanan yang aman dan terstandarisasi di daerah produksi utama.
- Pengembangan mekanisme kerjasama antara pemerintah, swasta, dan lembaga keuangan untuk pendanaan pembelian kedelai pada saat harga rendah.
Dengan mengimplementasikan langkah‑langkah tersebut, Indonesia dapat secara bertahap menurunkan ketergantungan impor kedelai, mengoptimalkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkuat ketahanan pangan jangka panjang.




