Clara Shinta Pilih Pisah Baik‑Baik, Tolak Sengketa Harta Gana‑Gini Setelah Somasi Miliaran Rupiah
Clara Shinta Pilih Pisah Baik‑Baik, Tolak Sengketa Harta Gana‑Gini Setelah Somasi Miliaran Rupiah

Clara Shinta Pilih Pisah Baik‑Baik, Tolak Sengketa Harta Gana‑Gini Setelah Somasi Miliaran Rupiah

Frankenstein45.Com – 05 Mei 2026 | Jakarta – Selebgram Clara Shinta mengumumkan keputusan penting untuk berpisah baik-baik dengan suaminya tanpa mempermasalahkan harta bersama, sekaligus mengungkap tekanan mental yang dialaminya setelah munculnya tuduhan perselingkuhan di media sosial.

Pengaduan ke Komnas Perempuan

Pada Senin, 4 Mei 2026, Clara mendatangi kantor Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta Pusat bersama kuasa hukumnya, Sunan Kalijaga. Kedatangan itu bertujuan untuk membuat laporan resmi terkait permasalahan rumah tangga yang ia rasa merugikan secara moral, materiil, dan profesional.

Sunan menjelaskan bahwa akar masalah bermula dari dugaan hubungan suami Clara, Muhammad Alexander Assad, dengan seorang wanita berinisial “I” yang sempat viral di jagat maya. Video atau rekaman yang beredar menimbulkan keresahan publik, merusak nama baik Clara, serta menimbulkan ketegangan dalam keluarga yang memiliki dua anak.

Usaha Penyelesaian Kekeluargaan Gagal, Somasi Miliaran Rupiah

Awalnya tim hukum Clara menyarankan penyelesaian secara internal demi menghindari proses hukum yang berlarut-larut. Namun, upaya tersebut berbalik ketika pihak wanita yang disebut “Indah” (atau inisial lain) melayangkan somasi kepada Clara, menuntut ganti rugi hingga miliaran rupiah.

“Klien kami mendapatkan somasi dari saudara Indah melalui kuasa hukumnya. Mbak Clara kaget dan bingung, ‘saya korban, kenapa saya disomasi?’” ujar Sunan di Komnas Perempuan. Somasi tersebut dianggap tidak adil mengingat Clara tidak terlibat dalam perselingkuhan, melainkan menjadi korban tekanan publik.

Kesehatan Mental yang Terganggu

Tekanan psikologis yang berat membuat Clara mencari bantuan profesional. Ia mengaku telah berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater, serta menjalani pengobatan rutin. “Psikolog sudah, psikiater juga. Saya sudah minum obat selama dua minggu terakhir, sehingga lebih tenang dalam menghadapi proses hukum,” kata Clara.

Menurutnya, kondisi mental yang stabil membantu menjaga fokus pada proses hukum dan menjaga kesejahteraan anak-anaknya. Namun, Clara mengakui penurunan semangat kerja dan penarikan diri dari aktivitas sosial selama masa krisis.

Keputusan Pisah Tanpa Mempermasalahkan Harta Gana-gini

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Clara dan suaminya memutuskan untuk tidak lagi tinggal serumah. Meskipun hubungan rumah tangga berakhir, Clara menegaskan bahwa ia tidak akan menuntut harta bersama atau “harta gana-gini”. Keputusan ini diambil demi menghindari konflik berkepanjangan yang dapat merugikan kedua belah pihak, terutama anak‑anak mereka.

“Kami ingin menyelesaikan ini secara baik-baik, tanpa memperkeruh situasi dengan sengketa harta. Fokus utama kami adalah kepentingan anak dan menjaga kehormatan masing-masing,” ujar Clara dalam pernyataan yang diberikan kepada media.

Reaksi Publik dan Langkah Selanjutnya

Kasus Clara Shinta menuai sorotan luas di media sosial, terutama karena melibatkan isu perselingkuhan, somasi, dan kesehatan mental. Netizen terbagi antara yang mendukung Clara sebagai korban dan yang menilai keputusan perceraian terlalu cepat. Namun, mayoritas tampak menghargai sikapnya yang mengedepankan penyelesaian damai tanpa pertikaian harta.

Tim hukum Clara menyatakan siap melanjutkan proses hukum apabila somasi tidak ditarik kembali, sekaligus menegaskan bahwa semua langkah akan diambil sesuai prosedur yang berlaku.

Dengan keputusan untuk berpisah secara baik-baik dan menolak sengketa harta, Clara Shinta memberi contoh bahwa penyelesaian masalah rumah tangga dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih manusiawi, tanpa menambah beban finansial dan emosional.

Ke depannya, Clara berencana fokus pada pemulihan mental, mengembangkan bisnisnya, dan memastikan anak‑anaknya tetap mendapatkan lingkungan yang stabil dan penuh kasih.